Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang mencapai Rp 16.000 telah memberikan dampak signifikan bagi para pengusaha konveksi yang harus mengimpor bahan baku dari luar negeri. Akibat situasi ini, biaya impor bahan baku dan biaya produksi melonjak tajam.
"Pelemahan rupiah telah menyebabkan harga bahan impor yang saya gunakan, terutama harga kain wol, meningkat sekitar 20%," kata pemilik toko jahit Tunggal Jaya, Rudi, di daerah Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (28/10/2023).
Rudi menambahkan bahwa pelemahan nilai tukar juga menyebabkan kelangkaan bahan baku impor, yang pada akhirnya menghambat penjualan.
"Sekarang kita kesulitan karena harganya tinggi, sehingga penjualan di sini agak lambat. Stok bahan kami sudah sekitar satu tahun, bahkan sebelum pandemi," katanya.
Rudi mengatakan bahwa biaya produksi dalam menjalankan bisnisnya juga meningkat karena bahan baku harus dibeli dengan menggunakan dolar AS.
Tidak hanya itu, penurunan nilai tukar rupiah juga mengakibatkan penurunan jumlah pelanggan yang datang ke toko.
"Jumlah pelanggan sudah berkurang sejak Agustus-September. Dibandingkan dengan tahun lalu, setelah pandemi masih ada cukup banyak pelanggan, tetapi tahun ini penurunan pelanggan bahkan lebih terasa," katanya.
Rudi berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menjadi lebih stabil, karena menurutnya kunci dari masalah ini terletak pada pendapatan masyarakat.
"Jika pendapatan masyarakat meningkat, daya beli mereka juga akan meningkat secara otomatis," ujar Rudi.