Print

Ekspor batik Indonesia mengalami penurunan signifikan sebesar 8,39% pada kuartal II-2024, mencerminkan tantangan serius yang dihadapi industri lokal. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang, menyebutkan bahwa salah satu penyebab utama dari penurunan ini adalah masuknya produk impor, termasuk batik dari negara lain, terutama China. Batik impor dari China berhasil menarik minat pasar karena harganya yang jauh lebih murah dibandingkan batik lokal, sehingga mengurangi permintaan terhadap produk lokal.

Sejak tahun 2012, Indonesia telah mengimpor kain dan produk batik jadi dari China dengan nilai mencapai sekitar Rp464,35 miliar, berdasarkan laporan dari akun Instagram @bigalphaid. Harga batik impor dari China yang kompetitif, yakni sekitar Rp70 ribu per helai, dibandingkan dengan batik Pekalongan yang dijual seharga Rp100 ribu, menjadi alasan mengapa produk impor lebih diminati. Bahkan, beberapa pedagang di Indonesia tidak menyadari bahwa batik yang mereka jual adalah produk impor, sehingga hal ini turut memperburuk situasi industri lokal.

Industri Tekstil Tertekan: PHK Meningkat

Selain tantangan dari batik impor, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) secara umum juga menghadapi tekanan besar. Dari Januari hingga Agustus 2024, sebanyak 22.356 pekerja di sektor pengolahan tekstil, garmen, dan alas kaki terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurunnya permintaan ekspor dan lemahnya permintaan dalam negeri turut memicu krisis ini. Meskipun industri tekstil dan pakaian jadi masih menyumbang 5,72% terhadap PDB non-migas Indonesia, namun nilai ekspor TPT turun sebesar 6,8% YoY, mengakibatkan banyak pabrik yang terpaksa mengurangi tenaga kerja atau menghentikan operasional.

Pada kuartal II-2024, kinerja ekspor TPT tercatat mencapai Rp27,39 triliun, dengan kontribusi industri batik sebesar Rp128,9 miliar. Meski demikian, masuknya batik impor dengan harga murah semakin memperburuk kondisi industri batik lokal. Batik Indonesia, yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009, harusnya mampu mendominasi pasar lokal dan internasional. Namun, kenyataannya, produk lokal harus bersaing ketat dengan produk impor.

Pemerintah dan Tantangan Batik Impor

Untuk menanggulangi masalah ini, pemerintah sebenarnya telah memperketat pengawasan impor tekstil sejak 2019. Namun, tantangan yang dihadapi industri batik tetap besar, mengingat produk impor, terutama dari China, masih terus masuk dan bersaing di pasar domestik. Banyak pihak berharap bahwa sebagai warisan budaya yang kaya, batik Indonesia mampu menguasai pasar baik di dalam negeri maupun di luar negeri, tanpa harus bersaing dengan produk impor yang lebih murah.

Dengan kondisi ini, diperlukan langkah strategis dari semua pihak, termasuk pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, untuk menjaga kelangsungan industri batik lokal. Promosi yang lebih kuat, peningkatan kualitas produk, serta penguatan kesadaran akan pentingnya mendukung produk lokal adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan ini. Jika tidak ada upaya serius, keberlanjutan industri batik sebagai warisan budaya berharga Indonesia bisa terancam.