Print

Presiden Prabowo Subianto menaruh perhatian serius terhadap keberlangsungan industri tekstil nasional di tengah tekanan global dan memanasnya perang dagang internasional. Pesan tersebut disampaikan langsung kepada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pertemuan di Hambalang, yang kemudian diungkapkan dalam Workshop Persiapan Pemeriksaan LKPP, LKKL, dan LKBUN Tahun 2025 di BPK Tower, Jakarta.

Airlangga menyampaikan bahwa Presiden menekankan pentingnya mempertahankan sektor industri tekstil karena menjadi salah satu sektor yang paling terbuka dan rentan terdampak dinamika perdagangan global. Oleh karena itu, pemerintah diminta mengambil langkah strategis agar industri ini tetap bertahan dan mampu berkembang secara berkelanjutan.

Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan, Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk masuk ke dalam lima besar pemain industri tekstil dunia. Kebutuhan terhadap produk tekstil yang bersifat jangka panjang serta pertumbuhan sektor yang konsisten menjadi modal utama bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya di pasar global.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Presiden Prabowo menyetujui tahap awal pembentukan pendanaan insentif bagi sektor tekstil guna melengkapi rantai nilai industri. Kebutuhan pendanaan yang disiapkan diperkirakan mencapai sekitar US$6 miliar. Selain itu, pemerintah juga merencanakan langkah penataan ulang badan usaha milik negara, termasuk pembentukan Danantara yang akan difokuskan untuk menangani sektor tekstil.

Pemerintah menargetkan lonjakan signifikan nilai ekspor tekstil nasional dari sekitar US$4 miliar menjadi US$40 miliar dalam kurun waktu 10 tahun. Seiring dengan itu, penyerapan tenaga kerja di sektor ini juga ditargetkan meningkat dari sekitar 4 juta orang menjadi 6 juta orang, atau bertambah sekitar 2 juta tenaga kerja.

Selain tekstil, pemerintah turut memberi perhatian khusus pada pengembangan industri elektronik, khususnya semikonduktor, yang dinilai strategis dalam menghadapi perubahan global. Airlangga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menjalin komunikasi dengan perusahaan semikonduktor asal Inggris yang menyatakan kesiapan untuk menjadi mitra strategis Indonesia.

Ke depan, pemerintah juga akan membentuk BUMN khusus di bidang semikonduktor. Pengembangan industri ini akan difokuskan pada penguatan sumber daya manusia, mengingat industri semikonduktor sangat bergantung pada kapabilitas dan kualitas SDM. Sektor ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masa depan, mulai dari industri otomotif, internet of things, komputer personal, hingga data center dan layanan komputasi awan.

Indonesia dinilai memiliki keunggulan tersendiri untuk mengembangkan industri semikonduktor karena ditopang oleh pasar domestik yang besar serta posisi sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di kawasan ASEAN. Jika dikelola secara optimal, sektor ini diharapkan mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru di masa mendatang.