Print

Pemerintah terus menggenjot ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global dengan menggelontorkan stimulus sebesar Rp110,7 triliun sepanjang tahun lalu. Salah satu fokus utama kebijakan tersebut diarahkan pada peningkatan kinerja ekspor industri tekstil, yang ditargetkan melonjak dari sekitar 4 miliar dolar AS menjadi 40 miliar dolar AS dalam jangka waktu 10 tahun.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini dinilai relatif lebih kuat dibandingkan banyak negara lain. Ketahanan tersebut tercermin dari stabilnya aktivitas industri serta kepercayaan pasar yang masih terjaga. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang positif dan Purchasing Managers’ Index (PMI) yang berada pada fase ekspansi menjadi indikator kuatnya fundamental ekonomi nasional.

Airlangga menjelaskan, sepanjang tahun lalu pemerintah telah menyalurkan stimulus ekonomi senilai Rp110,7 triliun. Ke depan, efektivitas stimulus tersebut akan terus dievaluasi seiring dengan pelaksanaan program makan bergizi gratis yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah. Program ini dinilai memiliki dampak ekonomi yang luas karena melibatkan berbagai sektor dan rantai pasok.

Menurutnya, program makan bergizi gratis berpotensi menjadi pendorong tambahan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan skala distribusi yang telah mencapai sekitar 60 juta piring, program tersebut diyakini mampu meningkatkan perputaran ekonomi, terutama di tingkat daerah, serta memperkuat daya beli masyarakat.

Di tengah upaya menjaga pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menyiapkan langkah antisipatif untuk menghadapi dampak perang tarif global. Airlangga mengungkapkan, sejumlah sektor industri nasional berada di garis terdepan risiko kebijakan tarif, terutama industri tekstil dan produk tekstil, alas kaki, garmen, serta elektronik yang selama ini berkontribusi besar terhadap ekspor dan penyerapan tenaga kerja.

Khusus untuk industri tekstil, pemerintah telah menyusun peta jalan jangka panjang guna memperkuat struktur industri dalam negeri sekaligus meningkatkan daya saing global. Roadmap tersebut menargetkan peningkatan ekspor tekstil secara bertahap hingga mencapai 40 miliar dolar AS dalam 10 tahun ke depan melalui penguatan kapasitas produksi dan pendalaman rantai nilai.

Airlangga menegaskan, seluruh langkah strategis tersebut menjadi prioritas pemerintah agar Indonesia mampu menjaga ketahanan ekonomi dan bersikap lebih defensif di tengah tekanan perang tarif global yang terus berkembang.