Print

Rencana pemerintah untuk mengucurkan stimulus besar ke sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) mulai memantik optimisme pasar. Pemerintah tengah mengkaji pendirian badan usaha milik negara (BUMN) baru di bidang tekstil sebagai upaya menjaga keberlanjutan industri yang selama ini menjadi tumpuan hidup jutaan pekerja di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa industri tekstil dan garmen merupakan “garis hidup” bagi sekitar 7 juta tenaga kerja. Di tengah tekanan perang tarif dan persaingan global yang semakin ketat, pemerintah menilai sektor ini harus dipertahankan dan diperkuat agar tidak kehilangan daya saing. Melalui Badan Pengelola Investasi Danantara, pemerintah menyiapkan dana hingga US$6 miliar atau setara sekitar Rp100 triliun untuk mendorong investasi di sektor tersebut.

Dana stimulus ini akan difokuskan pada modernisasi teknologi, peningkatan daya saing, serta percepatan investasi, termasuk pemberian insentif untuk barang modal, adopsi teknologi baru, dorongan ekspor, hingga proyek substitusi impor. Selain itu, pembentukan BUMN khusus tekstil diharapkan mampu memperkuat rantai nilai industri dari hulu hingga hilir serta memperluas penetrasi ekspor ke pasar global.

Langkah strategis ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan menjaga keberlangsungan industri tekstil di tengah gempuran produk impor sekaligus mempertahankan bahkan memperluas penyerapan tenaga kerja. Sentimen positif inilah yang kemudian langsung tercermin di pasar saham, dengan sejumlah emiten tekstil dan garmen mencatat lonjakan harga yang signifikan dalam waktu relatif singkat.

PT Sunson Textile Manufacture Tbk. (SSTM) menjadi yang paling menonjol dengan kenaikan hampir 90% dalam sebulan, mencerminkan akumulasi agresif dari pelaku pasar. PT Ever Shine Tex Tbk. (ESTI) menyusul dengan penguatan lebih dari 70%. PT Pan Brothers Tbk. (PBRX), meski masih berstatus notasi khusus, juga mencatat reli mendekati 70%. Saham PT Trisula Textile Industries Tbk. (BELL) dan PT Golden Flower Tbk. (POLU) ikut menguat di atas 50%, dengan karakter pergerakan yang berbeda—BELL cenderung eksplosif, sementara POLU naik lebih bertahap.

Euforia sektor juga merambah emiten lain seperti PT Inocycle Technology Group Tbk. (INOV), PT Bersama Zatta Jaya Tbk. (ZATA), dan PT Samcro Hyosung Adilestari Tbk. (ACRO) yang mencatat kenaikan menengah, menandakan rotasi dana yang semakin meluas. Di sisi lain, saham-saham berkapitalisasi lebih besar dan defensif seperti PT Indorama Synthetics Tbk. (INDR), PT Trisula International Tbk. (TRIS), dan PT Argo Pantes Tbk. (ARGO) bergerak lebih moderat, sementara PT Eratex Djaja Tbk. (ERTX) relatif tertinggal dengan pergerakan yang masih terbatas.

Meski demikian, lonjakan harga saham tekstil ini perlu disikapi dengan kewaspadaan. Sebagian besar reli masih digerakkan oleh sentimen dan ekspektasi terhadap stimulus pemerintah, bukan oleh perbaikan fundamental yang nyata. Banyak emiten tekstil masih dibayangi tantangan berat, mulai dari beban utang yang tinggi, margin yang belum pulih optimal, hingga tekanan arus kas akibat persaingan ketat dan derasnya produk impor.

Tak sedikit saham yang melonjak tajam merupakan saham lapis ketiga dengan likuiditas tipis, sehingga sangat sensitif terhadap arus dana jangka pendek. Kondisi ini membuat volatilitas harga menjadi tinggi dan rawan terhadap aksi FOMO maupun profit taking mendadak. Kenaikan yang cepat berpotensi berbalik turun dengan agresivitas yang sama. Dengan demikian, reli sektor tekstil saat ini lebih mencerminkan harapan dan spekulasi pasar terhadap kebijakan pemerintah, sementara pembuktian dari sisi fundamental masih membutuhkan waktu serta realisasi konkret dalam kinerja keuangan ke depan.