Emiten penyedia kain, seragam, dan produk fashion, PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL), menargetkan pertumbuhan pendapatan hingga 8% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada tahun 2026. Untuk mencapai target tersebut, perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi utama, termasuk peremajaan dan modernisasi mesin produksi dengan teknologi yang lebih canggih.
Presiden Direktur Trisula Textile Industries, Karsongno Wongsodjaja, menyampaikan bahwa manajemen optimistis terhadap prospek pertumbuhan perseroan tahun depan. Berbagai langkah strategis telah disiapkan guna mendorong kinerja yang lebih positif, sejalan dengan target pertumbuhan pendapatan sebesar 8% pada 2026.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, BELL mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp21 miliar pada 2026. Sekitar 70% dari capex tersebut akan difokuskan untuk peremajaan mesin guna meningkatkan efisiensi produksi dan kualitas produk. Selain itu, perseroan juga memperkuat riset dan pengembangan (R&D) melalui Trisula Innovation Center yang diharapkan mampu mendorong inovasi terintegrasi di sektor tekstil dan garmen.
Melalui Trisula Innovation Center, BELL menargetkan kolaborasi yang lebih erat dengan para pemasok untuk menularkan inovasi sekaligus menciptakan produk bernilai tambah. Upaya ini diarahkan untuk menghasilkan produk-produk yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar, baik domestik maupun internasional.
Di segmen ritel, perseroan berencana meluncurkan produk-produk baru secara berkala. Salah satu produk yang akan diperkenalkan pada tahun ini adalah kain hasil daur ulang yang secara khusus ditujukan untuk pasar ekspor. Produk ramah lingkungan tersebut diharapkan mampu memberikan kontribusi pendapatan yang lebih signifikan bagi perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan hingga sembilan bulan 2025, BELL mencatat penjualan ekspor sebesar Rp25,77 miliar, sementara penjualan domestik masih mendominasi dengan nilai Rp373,93 miliar. Penjualan ekspor perseroan tumbuh 10,74% YoY, berbanding terbalik dengan penjualan lokal yang terkoreksi 2,15% YoY. Secara keseluruhan, pendapatan BELL ditopang oleh segmen ritel sebesar 60%, korporat 26%, dan ekspor 6%.
Karsongno menyampaikan bahwa perseroan akan memaksimalkan keunggulan yang dimiliki untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar ekspor yang dituju. Langkah ini dinilai penting untuk memperluas kontribusi penjualan luar negeri ke depan.
Sepanjang sembilan bulan 2025, BELL membukukan penjualan neto sebesar Rp413,33 miliar, turun sekitar 3% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp426,36 miliar. Laba bersih perseroan juga mengalami penurunan 40,43% YoY menjadi Rp5,48 miliar. Meski demikian, manajemen tetap optimistis dapat mencatatkan kinerja yang lebih baik hingga akhir tahun.
Karsongno menilai kuartal IV/2025 menjadi momentum penting bagi penjualan produk-produk perseroan, seiring dengan meningkatnya permintaan pasar. Ia berharap capaian kinerja pada periode tersebut mampu mendorong pertumbuhan penjualan 2025 agar lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Optimisme BELL juga ditopang oleh strategi perseroan yang adaptif terhadap dinamika pasar, serta komitmen untuk terus berinovasi dan menjaga kualitas produk. Dengan langkah tersebut, BELL menargetkan pertumbuhan kinerja pada level single digit sepanjang tahun buku 2025, sekaligus memperkuat posisinya di industri tekstil dan garmen nasional.