Print

PT Trisula Textile Industries Tbk. (BELL) mengungkapkan faktor utama yang mendorong lonjakan harga saham perseroan hingga ratusan persen sejak awal tahun. Manajemen menilai sentimen positif pasar dipicu oleh pemberitaan terkait rencana pemerintah menyiapkan dana besar untuk menopang dan membangkitkan industri tekstil nasional.

Direktur Trisula Textile Industries, Heru Jatmiko Harrianto, menyampaikan bahwa rencana stimulus pemerintah senilai sekitar Rp101 triliun menjadi katalis utama kenaikan saham perseroan. Menurutnya, informasi tersebut memberikan optimisme bagi pelaku pasar terhadap prospek industri tekstil ke depan, termasuk kinerja emiten tekstil di Bursa Efek Indonesia.

Meski demikian, Heru menilai tahun 2026 akan menjadi periode yang menantang bagi industri tekstil nasional. Ketegangan geopolitik global berpotensi memberikan tekanan terhadap rantai pasok, permintaan, hingga kinerja ekspor. Namun, perseroan tetap optimistis mampu mencatatkan pertumbuhan di tengah dinamika tersebut.

Optimisme tersebut didukung oleh keunggulan produk BELL yang dinilai memiliki karakter unik serta kemampuan menyesuaikan pesanan sesuai kebutuhan pelanggan. Fleksibilitas dalam pemenuhan order menjadi kekuatan utama perseroan untuk menghadapi ketidakpastian pasar dan perubahan permintaan.

Di sisi lain, persaingan usaha di industri tekstil saat ini semakin ketat, terutama akibat maraknya barang impor ilegal dengan harga murah yang membanjiri pasar domestik. Kendati begitu, BELL menilai dampak dari produk impor murah tersebut relatif terbatas terhadap kinerja perseroan. Hal ini karena target pasar BELL berada pada segmen menengah ke atas, baik untuk produk dalam negeri maupun luar negeri.

Berkat sentimen positif tersebut, saham BELL tercatat telah menguat hingga 188,41 persen sejak awal tahun. Saat ini, saham perseroan tengah berada dalam status suspensi dan terakhir diperdagangkan pada level Rp199 per saham.

Sebelumnya, pemerintah juga mengumumkan rencana pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang secara khusus akan bergerak di sektor tekstil. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa keputusan tersebut diambil Presiden Prabowo Subianto setelah rapat terbatas yang digelar di Hambalang pada 11 Januari 2026.

Pembentukan BUMN tekstil ini bertujuan memperkuat struktur industri tekstil nasional yang tengah menghadapi tekanan tarif global serta persaingan internasional yang semakin ketat. Pemerintah akan menyiapkan pendanaan sebesar US$6 miliar yang dikelola oleh Danantara dalam bentuk fund untuk memberikan insentif dan pembiayaan bagi sektor tekstil.

Airlangga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menghidupkan kembali BUMN tekstil lama yang sudah berhenti beroperasi, melainkan membentuk entitas baru yang diharapkan mampu menjadi motor penggerak kebangkitan industri tekstil nasional.