Print

Industri tekstil Indonesia saat ini berada dalam situasi penuh tantangan akibat ketatnya persaingan global dan meningkatnya tekanan biaya produksi. Untuk menjaga keberlangsungan sektor strategis ini, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai diperlukan langkah-langkah adaptif agar pelaku usaha tetap mampu bertahan.

Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, mengungkapkan bahwa industri tekstil nasional tengah memasuki fase konsolidasi. Dalam kondisi tersebut, perusahaan berskala kecil menghadapi kesulitan yang semakin besar, sementara pelaku usaha dengan skala besar dinilai masih memiliki ruang untuk melanjutkan operasionalnya. Proses konsolidasi ini, menurutnya, menjadi konsekuensi dari dinamika pasar dan tekanan struktural yang tidak mudah dihindari.

Ia menambahkan, tidak tertutup kemungkinan akan ada perusahaan yang bergabung untuk memperkuat posisi bisnis, namun ada pula yang harus menghentikan kegiatan usahanya karena tidak lagi mampu bersaing. Situasi ini menjadi gambaran nyata dari perubahan lanskap industri tekstil dalam negeri.

Shinta menekankan bahwa faktor pasar menjadi aspek paling krusial bagi keberlanjutan industri tekstil saat ini. Oleh karena itu, penguatan ekspor terus didorong, terutama ke pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa yang selama ini menjadi tujuan terbesar ekspor produk tekstil dan garmen Indonesia.

Meski menghadapi berbagai tekanan, Indonesia masih dinilai memiliki daya tarik sebagai basis produksi bagi merek-merek global. Kualitas produk tekstil nasional yang kompetitif, ditopang dengan penerapan standar keberlanjutan serta prinsip environmental, social, and governance (ESG) yang semakin kuat, menjadi modal penting bagi industri tekstil Indonesia untuk tetap bertahan dan bersaing di pasar internasional.