Pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan ekspor pada tiga subsektor utama, yakni furnitur dan kriya, alas kaki, serta garmen dan tekstil, sebagai respons atas tekanan global, menguatnya kebijakan proteksionisme, serta semakin ketatnya standar masuk pasar Amerika Serikat. Langkah ini dinilai sebagai keputusan strategis yang sejalan dengan struktur industri nasional dan arah perkembangan pasar global.
Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menilai fokus pemerintah pada ketiga subsektor tersebut bukanlah pilihan politis, melainkan kebijakan berbasis kekuatan riil industri dalam negeri. Menurutnya, furnitur, alas kaki, serta garmen dan tekstil memiliki basis produksi yang relatif mapan, daya serap tenaga kerja yang besar, serta peluang peningkatan nilai tambah yang signifikan, khususnya untuk pasar Amerika Serikat.
Di sektor furnitur dan kriya, Indonesia dinilai memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditiru negara lain. Kombinasi bahan baku alam, keterampilan tenaga kerja, serta kekuatan desain berbasis budaya menempatkan produk furnitur dan kriya nasional pada segmen bernilai tinggi di pasar global. Produk-produk ini tidak bersaing pada harga murah, melainkan pada desain, keberlanjutan, dan konsistensi kualitas.
Sobur menilai penetapan furnitur dan kriya sebagai prioritas ekspor mencerminkan kedewasaan kebijakan industri nasional. Dengan mendorong subsektor ini, pemerintah dinilai tengah mengarahkan Indonesia ke jalur ekspor premium dan high-end yang relatif lebih tahan terhadap fluktuasi harga serta tekanan perang dagang. Namun demikian, keberhasilan strategi tersebut tetap bergantung pada konsistensi kebijakan, mulai dari kepastian bahan baku legal, penguatan kapasitas desain, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar yang tidak hanya mengandalkan pameran konvensional.
Sementara itu, subsektor alas kaki dinilai telah membuktikan diri sebagai mesin ekspor yang efektif. Basis manufakturnya telah terintegrasi dengan merek global, memenuhi standar kepatuhan internasional, serta memiliki kapasitas ekspor yang besar. Ke depan, tantangan utama bukan lagi sekadar volume produksi, melainkan peningkatan nilai tambah melalui penguatan desain, pengembangan material, serta kemampuan original design manufacturing.
Menurut Sobur, menjadikan alas kaki sebagai prioritas ekspor merupakan langkah realistis karena sektor ini relatif siap menghadapi tuntutan compliance, traceability, dan standar kualitas pasar Amerika Serikat. Dengan pendekatan tersebut, alas kaki berpotensi menjadi penopang utama pertumbuhan ekspor manufaktur Indonesia dalam satu dekade mendatang.
Adapun sektor garmen dan tekstil tetap masuk dalam prioritas pemerintah karena perannya yang besar dalam penyerapan tenaga kerja dan menjaga stabilitas industri di berbagai daerah. Namun tekanan dari negara-negara berbiaya produksi rendah membuat sektor ini tidak lagi dapat bertahan dengan model bisnis lama. Arah pengembangan pun difokuskan pada tekstil fungsional, technical apparel, produksi cepat berbasis pesanan kecil, serta penerapan standar keberlanjutan yang lebih ketat.
Sobur menegaskan bahwa memasukkan garmen dan tekstil dalam agenda prioritas mencerminkan kepedulian terhadap stabilitas sosial dan ketenagakerjaan nasional. Sektor ini dinilai tetap menjadi fondasi industri di banyak wilayah Indonesia, meski harus terus beradaptasi agar mampu bersaing di tengah perubahan pasar global.