Print

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) bukanlah industri sunset atau sektor yang mengalami penurunan permanen. Ia menilai anggapan tersebut keliru karena kebutuhan dasar manusia terhadap pakaian dan alas kaki tidak akan pernah hilang.

Menurut Airlangga, tidak ada satu pun sektor industri di Indonesia yang benar-benar mengalami sunset, termasuk industri tekstil. Selama manusia masih membutuhkan baju dan sepatu, pasar industri TPT akan selalu tersedia. Karena itu, ia meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Komisi XI DPR RI untuk memastikan sektor ini tetap mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan.

Airlangga menyoroti adanya penilaian dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) yang mengkategorikan industri tekstil sebagai sektor sunset, sehingga menyulitkan pelaku usaha memperoleh kredit. Padahal, secara global, potensi pasar tekstil masih sangat besar. Dengan jumlah penduduk dunia mencapai sekitar 8 miliar jiwa, hampir tidak ada manusia yang tidak membutuhkan pakaian dan sepatu.

Ia juga menyampaikan bahwa Indonesia telah menjalin berbagai kerja sama perdagangan dengan negara-negara di Asia dan Eropa, serta tengah mengupayakan perluasan kerja sama dengan Amerika Serikat. Dengan jaringan perdagangan tersebut, produk TPT Indonesia berpeluang menjangkau pasar global yang luas.

Airlangga mengingatkan bahwa Indonesia pernah menjadi salah satu pemain besar industri tekstil dunia. Oleh karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah investasi ulang dan peremajaan teknologi agar industri nasional mampu kembali bersaing. Ia menilai Indonesia memiliki sejumlah keunggulan kompetitif, mulai dari biaya energi, upah tenaga kerja, hingga tarif listrik dan air yang relatif lebih kompetitif dibandingkan Vietnam maupun China.

Menurutnya, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak mengembalikan kekuatan industri padat karya, termasuk tekstil. Presiden Prabowo Subianto, kata Airlangga, telah menyetujui penyiapan dana sebesar US$6 miliar sebagai bagian dari strategi penguatan sektor tersebut, lengkap dengan peta jalan pengembangannya.

Ia juga mengungkapkan bahwa hingga kini masih banyak investor asing dengan merek tekstil ternama yang bertahan dan bahkan terus mengembangkan usahanya di Indonesia. Pemerintah berencana menyiapkan dana US$6 miliar tersebut untuk skema co-investment atau co-financing guna mendorong modernisasi industri dan meningkatkan daya saing.

Airlangga menambahkan, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu dari lima negara di dunia yang mampu tampil sebagai pemain besar industri tekstil global. Optimisme ini didorong oleh basis industri yang sudah ada, ketersediaan tenaga kerja, serta dukungan kebijakan pemerintah.

Sebelumnya, pemerintah juga menegaskan komitmennya menyiapkan dana sekitar US$6 miliar untuk peremajaan teknologi industri tekstil nasional. Langkah ini diambil untuk menjaga keberlangsungan sektor padat karya yang menyerap jutaan tenaga kerja, sekaligus memastikan investasi di sektor tekstil tetap berjalan di tengah ketatnya persaingan global.

Airlangga menyebut industri tekstil saat ini menyerap sekitar 5 juta tenaga kerja dan masih memiliki potensi besar untuk berkembang. Dengan adaptasi teknologi yang tepat dan iklim investasi yang kondusif, sektor ini diyakini mampu kembali menjadi tulang punggung industri manufaktur nasional.