Bangladesh memperoleh pemangkasan tarif impor Amerika Serikat sebesar 19 persen melalui perjanjian perdagangan bilateral yang ditandatangani pada Senin (9/2/2026). Kesepakatan ini memberikan perlakuan khusus bagi industri tekstil dan pakaian jadi Bangladesh, terutama untuk produk yang menggunakan kapas dan serat buatan asal Amerika Serikat, yang akan menikmati tarif timbal balik nol saat memasuki pasar AS.
Kepala penasihat pemerintahan sementara Bangladesh, Muhammad Yunus, menyatakan bahwa Washington memberikan komitmen khusus dalam perjanjian tersebut. Amerika Serikat sepakat membangun mekanisme agar produk tekstil dan garmen tertentu dari Bangladesh dapat masuk ke pasar AS tanpa bea masuk, selama memenuhi ketentuan bahan baku yang disepakati.
Sebagai imbal balik, Bangladesh berkomitmen membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk industri dan pertanian Amerika Serikat. Produk yang akan memperoleh kemudahan akses mencakup bahan kimia, alat kesehatan, mesin, kendaraan bermotor dan suku cadangnya, serta berbagai komoditas pertanian seperti kedelai, susu, daging sapi, unggas, kacang-kacangan, dan buah-buahan. Pemerintah Bangladesh juga sepakat mengurangi hambatan non-tarif, termasuk dengan mengakui standar keselamatan dan emisi kendaraan AS serta sertifikasi Food and Drug Administration, serta menghapus pembatasan impor barang hasil daur ulang.
Perjanjian tersebut turut memuat rencana peningkatan pembelian produk asal Amerika Serikat. Kedua negara mencatat sejumlah kesepakatan komersial yang telah berjalan dan direncanakan, di antaranya pembelian produk pertanian AS senilai sekitar 3,5 miliar dollar AS dan produk energi senilai sekitar 15 miliar dollar AS untuk jangka waktu 15 tahun. Selain itu, dokumen perjanjian setebal 32 halaman yang dirilis Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat menyebut Biman Bangladesh Airlines berencana membeli 14 pesawat Boeing dengan opsi tambahan, yang pertama kali diumumkan pada Juli tahun lalu saat negosiasi masih berlangsung.
Kesepakatan juga mencakup rencana pembelian peralatan militer Amerika Serikat, meski jumlah dan jenisnya tidak dirinci. Bangladesh menyatakan akan membatasi pembelian alat pertahanan dari negara tertentu sebagai bagian dari komitmen kerja sama strategis dengan Washington.
Selain aspek ekonomi, perjanjian ini turut memuat komitmen non-ekonomi. Bangladesh berjanji menjunjung hak-hak buruh yang diakui secara internasional serta memperkuat perlindungan lingkungan. Yunus menyebut kesepakatan tersebut sebagai hasil perundingan intensif selama sembilan bulan sejak April tahun lalu. Sebelumnya, pada Agustus, Bangladesh telah lebih dulu memperoleh penurunan tarif ekspor ke AS menjadi 20 persen dari rencana awal 37 persen, yang memberi ruang bernapas bagi industri garmen nasional yang sangat bergantung pada pasar ekspor.
Secara regional, tarif impor Bangladesh masih sedikit lebih tinggi dibanding tarif 18 persen yang disepakati Amerika Serikat dengan India pekan lalu. Namun, kesepakatan dengan India masih memerlukan perundingan lanjutan. Perwakilan Dagang Amerika Serikat, Jamieson Greer, menyebut Bangladesh sebagai negara pertama di Asia Selatan yang berhasil menuntaskan kesepakatan perdagangan timbal balik dengan AS.
Industri garmen siap pakai merupakan tulang punggung perekonomian Bangladesh. Sektor ini menyumbang lebih dari 80 persen pendapatan ekspor nasional, menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja, dan berkontribusi sekitar 10 persen terhadap produk domestik bruto. Kesepakatan dagang ini dinilai menjadi momentum penting bagi Bangladesh di tengah situasi politik domestik, menjelang pemilihan umum yang akan digelar Kamis, setelah negara tersebut dipimpin pemerintahan sementara sejak Agustus 2024.