Print

Komunitas Minimalist Moms Indonesia (MMID) kembali menggelar Temu Perempuan Minimalis (TPM) 2026 pada Minggu, 25 Januari 2026 di Sekolah Murid Merdeka, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Mengusung tema #WearWiselyLiveFully, agenda tahunan ini secara khusus menyoroti isu sustainable fashion atau fesyen berkelanjutan sebagai respons atas meningkatnya persoalan limbah tekstil dan pola konsumsi pakaian yang berlebihan.

Tahun ini, TPM memfokuskan pembahasan pada peran perempuan dalam membangun kebiasaan berbusana yang lebih sadar, mulai dari proses membeli, memakai, merawat, hingga mengelola pakaian pasca pakai. Isu ini dinilai sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Sebagai komunitas yang mendorong praktik hidup minimalis, MMID terus mengajak anggotanya menjalani gaya hidup yang lebih sederhana, cukup, dan bertanggung jawab. Melalui diskusi, kampanye, dan kolaborasi, TPM menjadi ruang edukasi sekaligus penguat jejaring antarperempuan yang memiliki visi serupa.

Rangkaian acara dibuka dengan talkshow bertajuk “Living with Less Fashion Waste: From Buying to Recycling” yang menjadi ruang refleksi mengenai persoalan limbah fesyen. Nada Arini, praktisi sustainable living, menekankan pentingnya kesadaran dalam memilih dan mengenakan pakaian. Ia mengajak peserta memahami praktik outfit repeater sebagai keputusan sadar, bukan sekadar tren atau keterpaksaan. Menurutnya, mengulang pakaian justru menunjukkan kendali atas konsumsi dan pemahaman terhadap kebutuhan pribadi. Lemari yang dirancang fungsional dengan warna netral dinilai dapat memudahkan padu padan sekaligus menekan belanja impulsif.

Sementara itu, Aisyah Winna, Founder Bersibersi Lemari dan Teman Hebat Berkarya, mengingatkan bahwa persoalan tidak berhenti pada tahap pembelian. Ia menilai decluttering kerap dianggap solusi akhir, padahal tanpa pengelolaan yang tepat, pakaian bekas berpotensi menjadi timbunan sampah tekstil. Melalui gerakan Bersibersi Lemari, pakaian bekas dikelola melalui jalur upcycle bersama teman disabilitas, penyaluran ke wilayah 3T, serta penjualan kembali untuk mendukung kegiatan sosial dan pendidikan. Pendekatan ini diharapkan mampu memperpanjang siklus hidup pakaian sekaligus memberi dampak sosial yang lebih luas.

Tak hanya diskusi, TPM 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan partisipatif. Peserta mengikuti workshop Basic Repair bertema “Repair First, Re-wear Later” bersama tim @jahitku_hub, serta simple upcycling workshop yang mengubah kaos lama menjadi tas serut fungsional bersama @revup.id. Melalui praktik langsung ini, peserta diajak memahami bahwa memperbaiki dan memodifikasi pakaian bisa menjadi langkah konkret mengurangi limbah.

Kegiatan Pasar Tukar dengan tagline #PedePakaiPreloved turut meramaikan acara, mendorong peserta untuk menghibahkan pakaian layak pakai sekaligus mengadopsi item yang dibutuhkan. Panitia juga menyediakan Drop Box #BijakMembuang untuk pakaian tak layak pakai, minyak jelantah, kertas, dan kardus sebagai bagian dari edukasi pengelolaan sampah terpadu. Selain itu, Sustainability Bazaar menghadirkan pelaku usaha ramah lingkungan yang menawarkan produk fesyen preloved, barang daur ulang, hingga kebutuhan rumah tangga minim sampah sebagai alternatif konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

Bagi keluarga yang hadir, tersedia Kids Activity bertema “Rain, Cloud, and Sunshine” bersama tim SMM Pesanggrahan yang mengajak anak-anak mengenal fenomena alam melalui eksperimen sederhana dan kegiatan kreatif. Kehadiran aktivitas ini menunjukkan bahwa edukasi keberlanjutan dapat dimulai sejak usia dini.

Founder MMID, Evi Syahida, menegaskan bahwa minimalisme bukan sekadar memiliki lebih sedikit barang, melainkan membangun kesadaran kolektif dalam memilih, memakai, dan mengelola apa yang dimiliki. Ia menekankan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar, melainkan dari keputusan kecil yang konsisten. Dari lemari yang lebih sadar, perempuan dapat mengambil peran penting dalam mengurangi limbah fesyen dan membangun tanggung jawab yang lebih luas terhadap bumi.