Print

Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Washington DC untuk bertemu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dinilai menjadi momentum penting bagi Indonesia dalam mengamankan kepentingan dagang nasional. Salah satu isu krusial yang mengemuka adalah upaya memperoleh keringanan tarif bagi industri padat karya berorientasi ekspor, terutama tekstil dan produk tekstil (TPT) serta alas kaki.

Ekonom dari Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai kebijakan tarif Amerika Serikat berpotensi menekan daya saing industri dalam negeri. Sektor padat karya seperti tekstil, sepatu, karet dan produk turunannya, furnitur, hingga elektronik merupakan tulang punggung ekspor sekaligus penyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Jika tidak diantisipasi melalui negosiasi dagang yang kuat, sektor-sektor tersebut bisa semakin tergerus oleh persaingan global, khususnya dari negara-negara dengan biaya produksi lebih rendah.

Menurutnya, pemerintah perlu menjadikan sektor-sektor tersebut sebagai prioritas dalam perundingan bilateral. Di tengah kompetisi perdagangan yang semakin ketat, perlindungan terhadap industri strategis menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekspor dan lapangan kerja. Selain itu, Indonesia juga didorong untuk mengoptimalkan posisi strategisnya di kawasan guna memperkuat daya tawar dalam menghadapi kebijakan tarif AS.

Upaya tersebut perlu diiringi reformasi struktural di dalam negeri. Deregulasi, penurunan hambatan perdagangan, peningkatan kepastian hukum bagi investor, serta penataan kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) dinilai sebagai langkah yang sejalan dengan kebutuhan peningkatan daya saing nasional. Reformasi internal akan memperkuat posisi Indonesia dalam meja perundingan sekaligus meningkatkan kepercayaan mitra dagang.

Di sisi lain, peluang tetap terbuka bagi Indonesia untuk memperoleh keuntungan dari negosiasi tarif. Sejumlah komoditas yang tidak diproduksi oleh Amerika Serikat namun dibutuhkan pasar di sana berpotensi mendapatkan keringanan pajak signifikan, bahkan di bawah 19 persen. Produk-produk seperti crude palm oil (CPO) dan turunannya, kopi, karet dan produk karet, cokelat, serta berbagai mineral strategis menjadi sektor yang dinilai memiliki prospek positif dalam perundingan.

Meski demikian, perhatian utama tetap tertuju pada industri padat karya seperti tekstil dan alas kaki. Keringanan tarif bagi sektor ini akan berdampak langsung terhadap keberlanjutan usaha dan penyerapan tenaga kerja di dalam negeri. Dalam konteks perlambatan global dan tekanan impor, hasil negosiasi dagang dengan Amerika Serikat menjadi sangat menentukan arah pertumbuhan industri nasional.

Berdasarkan unggahan akun resmi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, Presiden Prabowo bertolak ke Washington DC untuk melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Trump. Dalam kunjungan tersebut, Presiden didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Agenda utama pertemuan mencakup penguatan hubungan bilateral dan pembahasan kerja sama strategis di berbagai bidang ekonomi melalui sejumlah perundingan dan perjanjian dagang.

Kunjungan ini menjadi bagian dari diplomasi aktif pemerintah untuk memperkuat rantai ekonomi nasional dan meningkatkan produktivitas industri dalam negeri. Hasil perundingan tarif dengan Amerika Serikat diharapkan mampu memberikan ruang napas bagi industri padat karya sekaligus membuka peluang ekspor yang lebih kompetitif bagi Indonesia di pasar global.