Print

Indonesia dan Amerika Serikat (AS) memperkuat kemitraan ekonominya melalui penandatanganan 11 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan total nilai mencapai US$ 38,4 miliar atau setara lebih dari Rp 600 triliun. Kesepakatan tersebut dicapai dalam sesi roundtable Business Summit yang diselenggarakan oleh US-ASEAN Business Council (US-ABC) pada Rabu (18/2/2026) waktu setempat dan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.

Penandatanganan ini menjadi sinyal kuat bahwa hubungan ekonomi kedua negara tidak hanya bertumpu pada perdagangan, tetapi juga pada investasi strategis dan kolaborasi jangka panjang antara pemerintah dan pelaku usaha. Berbagai sektor tercakup dalam kerja sama tersebut, mulai dari pertambangan dan hilirisasi mineral kritis, energi, agribisnis, tekstil dan garmen, manufaktur furnitur, hingga pengembangan teknologi semikonduktor.

Di sektor mineral kritis, disepakati Memorandum of Agreement antara Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani dengan President & CEO Freeport-McMoRan Kathleen Quirk serta President Director PT Freeport Indonesia Tony Wenas. Kesepakatan ini memperkuat agenda hilirisasi sumber daya alam Indonesia sekaligus memastikan pasokan mineral strategis bagi rantai pasok global.

Pada sektor energi, Pertamina menandatangani MoU Oilfield Recovery dengan Halliburton. Kerja sama ini diharapkan meningkatkan produktivitas lapangan migas nasional melalui penerapan teknologi dan metode enhanced oil recovery yang lebih modern.

Di bidang agrikultur, khususnya komoditas jagung, kerja sama dijalin antara PT Cargill Indonesia, PT Arena Agro Andalan, dan Cargill Inc. Kolaborasi ini menitikberatkan pada peningkatan produktivitas, efisiensi rantai pasok, serta penguatan ketahanan pangan.

Sektor tekstil dan garmen juga mendapat porsi signifikan. Busana Apparel Group dan Daehan Global masing-masing menandatangani MoU tentang kapas (cotton) dengan U.S. National Cotton Council. Kesepakatan ini diharapkan menjamin ketersediaan bahan baku kapas berkualitas bagi industri tekstil nasional sekaligus meningkatkan daya saing ekspor produk garmen Indonesia ke pasar global.

Selain itu, kerja sama terkait pengelolaan shredded worn clothing atau pakaian bekas cacah dilakukan antara Asosiasi Garment dan Textile Indonesia, PT Pan Brothers, dan Ravel. Langkah ini dinilai penting dalam mendorong praktik ekonomi sirkular dan pengelolaan limbah tekstil yang lebih berkelanjutan.

Di sektor furnitur dan produk kayu, ASMINDO menjalin kemitraan dengan Bingaman and Son Lumber, Inc, sementara HIMKI menandatangani MoU dengan American Hardwood Export Council. Kerja sama ini membuka peluang akses bahan baku kayu keras asal AS sekaligus memperluas pasar ekspor furnitur Indonesia yang selama ini menjadi salah satu andalan devisa nonmigas.

Tak kalah strategis, pengembangan industri semikonduktor menjadi sorotan melalui sejumlah MoU antara Galang Bumi Industri (GBI) dengan Essence serta Tynergy Technology Group. Bahkan, GBI juga menjalin kesepakatan Transnational Free Trade Zone Friendship dengan Solanna Group LLC, yang bertujuan memperkuat jejaring kawasan perdagangan bebas lintas negara. Langkah ini sejalan dengan upaya Indonesia masuk lebih dalam ke rantai pasok industri teknologi global.

Secara keseluruhan, 11 nota kesepahaman tersebut mencerminkan perluasan spektrum kerja sama ekonomi Indonesia–AS yang semakin komprehensif. Bukan hanya soal nilai investasi yang besar, tetapi juga transfer teknologi, penguatan kapasitas industri, penciptaan lapangan kerja, dan integrasi ke rantai pasok global.

Momentum ini sekaligus mempertegas posisi Indonesia sebagai mitra strategis Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik. Dengan kombinasi sumber daya alam, pasar domestik yang besar, serta agenda hilirisasi dan industrialisasi yang agresif, Indonesia berupaya memanfaatkan kerja sama ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.