Print

Epson kembali menegaskan perannya sebagai pemimpin global teknologi pencetakan profesional melalui peluncuran whitepaper terbaru hasil kolaborasi dengan International Data Corporation (IDC) berjudul Digital Sublimation Printing: Driving Customer Value, Sustainability, and Growth. Laporan ini menyoroti bagaimana teknologi digital dye sublimation menjadi motor percepatan transformasi industri cetak tekstil di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Filipina, dan Thailand.

Industri cetak tekstil di kawasan ini tengah memasuki fase krusial. Tekanan ekonomi, perubahan perilaku konsumen, serta tuntutan praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan memaksa pelaku usaha beradaptasi lebih cepat. Salah satu temuan paling menonjol dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan yang berinvestasi pada teknologi digital dye sublimation mencatat pertumbuhan pendapatan rata-rata sebesar 8,4 persen dalam periode 24 bulan. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan metode sablon konvensional yang hanya sedikit di atas 1 persen dalam periode yang sama.

Keunggulan utama teknologi ini terletak pada fleksibilitas produksi. Jika sablon tradisional mensyaratkan jumlah pesanan minimum dalam skala besar, digital dye sublimation memungkinkan produksi skala kecil hingga sistem on demand. Model ini membuka peluang pasar baru bagi penyedia jasa cetak, mulai dari penyelenggara acara, pemilik merek lokal, hingga desainer kain independen yang membutuhkan produksi cepat dan personalisasi tinggi.

Transformasi tidak hanya terjadi pada sisi bisnis, tetapi juga dalam standar operasional pabrik. Teknologi dye sublimation dikenal lebih hemat air dan mengurangi penggunaan tinta berbahan kimia keras dibandingkan metode sablon tradisional. Sebanyak 33 persen pengguna melaporkan peningkatan keselamatan kerja karena berkurangnya paparan zat kimia serta minimnya emisi berbahaya di ruang produksi. Selain itu, sistem ini dirancang untuk menekan konsumsi energi tanpa mengorbankan kualitas hasil cetak.

Head of Vertical Business Epson Indonesia, Lina Mariani, menyatakan bahwa meskipun masih terdapat kesenjangan antara ambisi penyedia layanan dan tingkat kesadaran pelanggan, peluang edukasi pasar tetap terbuka luas. Menurutnya, digital dye sublimation bukan hanya solusi ramah lingkungan, tetapi juga strategi untuk mengurangi limbah sekaligus membuka akses ke segmen pasar bernilai tambah tinggi.

Tren gaya hidup aktif di Asia Tenggara turut mempercepat adopsi teknologi ini. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan luar ruang seperti maraton dan hiking mendorong lonjakan permintaan apparel kustom berbahan poliester—material yang sangat ideal untuk proses dye sublimation. Sebanyak 81 persen penyedia layanan cetak kini melayani pasar sportswear.

 

Tak hanya berhenti pada pakaian olahraga, ekspansi juga terjadi ke segmen homeware seperti bantal dekoratif dan taplak meja kustom (36 persen), footwear untuk desain sepatu personal (33 persen), hingga aplikasi kecil seperti label dan tag tekstil berkualitas tinggi. Diversifikasi ini menunjukkan bahwa digitalisasi tidak sekadar menggantikan metode lama, tetapi juga menciptakan kategori produk baru dengan nilai tambah lebih tinggi.

Data IDC memproyeksikan pengiriman printer digital dye sublimation di kawasan Asia Pasifik akan menembus lebih dari 3.000 unit pada akhir 2025, meningkat dua kali lipat dibandingkan 2017. Dengan 70 persen penyedia layanan cetak kini menjadikan keberlanjutan sebagai prioritas bisnis, Epson menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan inovasi yang tidak hanya mendorong profitabilitas industri, tetapi juga mendukung masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.