Print

Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian memastikan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) serta industri alas kaki nasional siap menghadapi peningkatan permintaan masyarakat selama bulan Ramadhan hingga Idulfitri 1447 Hijriah. Kesiapan tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan produk di pasar domestik yang setiap tahun mengalami lonjakan konsumsi pada periode tersebut.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa kinerja industri TPT dan alas kaki nasional saat ini berada dalam kondisi stabil. Selain itu, kapasitas produksi yang dimiliki industri dalam negeri dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang meningkat selama Ramadhan dan Idulfitri.

Menurutnya, momentum Ramadhan dan Idulfitri selalu diikuti oleh peningkatan konsumsi masyarakat terhadap berbagai produk fesyen seperti pakaian, kain, dan alas kaki. Berdasarkan koordinasi pemerintah dengan pelaku usaha serta asosiasi industri, kapasitas produksi nasional saat ini berada dalam kondisi optimal sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Industri TPT dan alas kaki sendiri merupakan salah satu sektor manufaktur prioritas yang memiliki karakteristik padat karya dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Pada tahun 2025, industri TPT mencatat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 3,55 persen secara tahunan dengan kontribusi terhadap PDB nasional mencapai 0,97 persen.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian, Rizky Aditya Wijaya, menambahkan bahwa sektor ini juga memiliki peran penting dalam penyerapan tenaga kerja. Hingga Agustus 2025, jumlah tenaga kerja di sektor TPT mencapai sekitar 3,96 juta orang. Angka tersebut meningkat dibandingkan Februari 2025 yang tercatat sebanyak 3,76 juta orang.

Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa industri TPT masih menjadi salah satu sektor utama dalam menyerap tenaga kerja di sektor manufaktur. Untuk memastikan kesiapan industri dalam menghadapi lonjakan permintaan selama Ramadhan dan Idulfitri, pemerintah terus melakukan berbagai langkah strategis.

Beberapa langkah tersebut antara lain melakukan pemantauan terhadap kapasitas produksi industri, memperkuat pasokan bahan baku, serta memastikan kelancaran distribusi dan logistik. Pemerintah juga secara rutin memonitor utilisasi kapasitas industri tekstil, pakaian jadi, dan alas kaki agar produksi dapat berjalan optimal.

Selain itu, koordinasi dengan produsen bahan baku seperti serat, benang, kain, hingga bahan baku alas kaki juga terus diperkuat. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kelancaran pasokan sekaligus memastikan stabilitas harga di pasar.

Di sisi lain, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap peredaran pakaian bekas impor ilegal atau thrifting ilegal yang dinilai merugikan industri dalam negeri, khususnya pelaku industri kecil dan menengah. Pengawasan tersebut dilakukan untuk melindungi pasar domestik sekaligus memberikan ruang yang lebih luas bagi produk tekstil dalam negeri.

Berdasarkan laporan dari pelaku industri yang tergabung dalam Asosiasi Pertekstilan Indonesia dan Asosiasi Persepatuan Indonesia, produksi sejumlah produk mulai mengalami peningkatan sejak awal tahun 2026. Peningkatan tersebut terutama terjadi pada produk busana muslim, kain sarung, pakaian anak, sepatu kasual, serta sandal yang menjadi kebutuhan utama masyarakat menjelang Idulfitri.

Momentum Ramadhan dan Idulfitri juga memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja tambahan guna memenuhi peningkatan pesanan produksi. Pemerintah optimistis momentum tersebut tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga dapat mendorong kinerja industri serta memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.