Momentum Hari Raya Idulfitri kembali menjadi pendorong utama peningkatan permintaan di industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Setiap tahun, tradisi masyarakat membeli pakaian baru menjelang Lebaran membuat permintaan produk fesyen, pakaian jadi, hingga perlengkapan ibadah meningkat cukup signifikan dibandingkan periode normal.
Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) David Leonardi mengatakan bahwa kenaikan permintaan menjelang Idulfitri merupakan pola yang selalu terjadi setiap tahun. Pada periode ini, kebutuhan masyarakat terhadap pakaian baru dan berbagai produk fesyen mendorong peningkatan permintaan di sektor ritel hingga puluhan persen.
Peningkatan permintaan di pasar ritel tersebut kemudian mendorong aktivitas produksi di sektor hilir seperti industri garmen dan konveksi. Sementara itu, sektor hulu dan menengah, termasuk pemintalan, penenunan, serta proses pencelupan, biasanya mulai bergerak lebih awal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bagi industri hilir.
Menurut David, permintaan untuk musim Lebaran tahun ini sudah mulai terasa sejak beberapa bulan sebelum Ramadan. Hal ini terutama datang dari para pelaku ritel yang mulai mempersiapkan stok produk guna memenuhi kebutuhan masyarakat selama bulan puasa hingga Idulfitri.
Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto juga menilai bahwa periode Ramadan hingga menjelang Idulfitri merupakan salah satu momentum paling penting bagi industri garmen dan tekstil nasional. Permintaan biasanya meningkat pada berbagai kategori produk seperti busana muslim, pakaian keluarga, pakaian anak-anak, serta produk modest fashion yang semakin diminati masyarakat.
Namun demikian, kondisi pasar tahun ini juga diwarnai sejumlah tantangan bagi industri dalam negeri. David memperkirakan peningkatan permintaan di sektor ritel bisa mencapai lebih dari 75 persen dibandingkan periode normal. Sayangnya, sebagian besar lonjakan permintaan tersebut justru dipenuhi oleh produk impor.
Ia memperkirakan sekitar 80 persen peningkatan permintaan di pasar ritel diisi oleh barang impor, sehingga dampaknya terhadap pertumbuhan industri tekstil domestik belum maksimal. Kondisi ini membuat utilisasi produksi di sektor hulu dan menengah masih berada di bawah 50 persen dan belum menunjukkan peningkatan signifikan menjelang Lebaran.
Kenaikan pesanan baru dirasakan secara terbatas oleh industri garmen dan konveksi yang berhubungan langsung dengan pasar ritel. Sementara sektor hulu masih menghadapi keterbatasan permintaan.
David menegaskan bahwa pelaku industri sebenarnya telah melakukan berbagai langkah antisipasi, mulai dari menjaga ketersediaan bahan baku, menyesuaikan jadwal produksi, hingga meningkatkan efisiensi biaya agar margin usaha tetap terjaga di tengah kenaikan biaya produksi.
Namun ruang gerak industri tetap terbatas karena pasar domestik menghadapi persaingan ketat dari produk impor berharga murah. Selain itu, melemahnya daya beli masyarakat juga turut memengaruhi kinerja industri, terutama bagi sektor manufaktur padat karya seperti tekstil.
Menurutnya, maraknya produk impor murah yang masuk ke pasar domestik, baik secara legal maupun ilegal, serta praktik dumping menjadi salah satu tekanan terbesar bagi industri tekstil nasional saat ini.
Di sisi lain, Anne menjelaskan bahwa dinamika pasar industri tekstil dalam beberapa tahun terakhir memang mengalami perubahan. Sejak 2023, peningkatan permintaan menjelang Lebaran masih terjadi, tetapi dengan tingkat pertumbuhan yang lebih moderat, yakni sekitar 20 persen dibandingkan periode normal.
Sebelum pandemi Covid-19, lonjakan permintaan menjelang Lebaran bahkan dapat meningkat hingga sekitar 100 persen sekitar dua bulan sebelum Idulfitri. Hal ini menunjukkan bahwa pasar domestik saat ini masih berada dalam fase pemulihan sekaligus menghadapi berbagai tantangan struktural di sektor industri.
Berdasarkan berbagai indikasi yang ada, AGTI memperkirakan pertumbuhan permintaan dan volume penjualan pada Idulfitri tahun ini berada di kisaran 15 hingga 20 persen dibandingkan periode normal. Jika dibandingkan dengan musim Lebaran tahun lalu, permintaan tahun ini diperkirakan relatif stabil dengan kecenderungan sedikit lebih baik.
Meski demikian, periode Lebaran tetap dipandang sebagai kesempatan penting bagi pelaku industri untuk memperkuat daya saing produk dalam negeri. Industri garmen dan tekstil didorong untuk terus melakukan inovasi desain, memperkuat merek lokal, serta meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk agar semakin diminati oleh konsumen domestik.
Anne optimistis bahwa dengan kapasitas produksi yang besar serta pengalaman panjang dalam memenuhi kebutuhan pasar Ramadan, industri tekstil dan garmen Indonesia mampu merespons peningkatan permintaan secara optimal.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Trisula Textile Industries Tbk (BELL) Karsongno Wongso Djaja melihat adanya perubahan tren konsumsi pakaian saat Lebaran, seiring dengan preferensi masyarakat yang semakin beragam. Selain untuk merayakan hari raya, konsumen juga mulai menyiapkan berbagai pilihan pakaian untuk aktivitas selama periode libur panjang setelah Lebaran.
Melihat perkembangan tersebut, perusahaan menargetkan pertumbuhan yang stabil pada segmen ritel. Untuk memaksimalkan momentum Lebaran, perseroan mengoptimalkan berbagai kanal penjualan melalui merek JOBB dan Jack Nicklaus yang saat ini memiliki 211 titik penjualan di berbagai lokasi.
Menurut Karsongno, produk ritel memang memiliki pola penjualan musiman, dengan lonjakan penjualan yang biasanya terjadi pada periode liburan. Oleh karena itu, perusahaan juga menawarkan berbagai program promosi dan diskon guna memberikan nilai tambah bagi pelanggan sekaligus mendorong pertumbuhan penjualan selama musim belanja Lebaran.