Keramaian kembali terasa di lorong-lorong Blok B Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, menjelang Hari Raya Idulfitri. Ribuan pengunjung memadati kawasan pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara itu, menciptakan suasana yang riuh sekaligus penuh aktivitas ekonomi.
Di antara lorong sempit yang dipenuhi kios pakaian, para pria tampak memanggul karung putih besar berisi stok pakaian, sementara para ibu dengan teliti memeriksa bahan kain yang dipajang di etalase toko. Aktivitas jual beli berlangsung tanpa henti, menandakan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pakaian baru untuk merayakan Lebaran.
Di salah satu sudut Blok B lantai SLG Los E, manekin-manekin yang mengenakan gamis dan baju koko berwarna pastel terlihat mencolok di tengah lalu-lalang pembeli. Pemandangan ini memperlihatkan bagaimana pasar fisik seperti Tanah Abang masih memiliki daya tarik tersendiri, meskipun belanja daring kini semakin mudah diakses.
Bagi sebagian pembeli, pengalaman melihat dan menyentuh langsung bahan pakaian tetap menjadi alasan utama datang ke pasar. Mereka ingin memastikan kualitas bahan sebelum membeli, sesuatu yang sulit didapatkan ketika berbelanja secara online.
Salah satu pedagang di kawasan tersebut, Dermawan, pemilik toko Molek I, mengaku kondisi penjualan tahun ini terasa lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, peningkatan jumlah pengunjung membawa dampak positif bagi omzet pedagang.
Ia juga mengungkapkan adanya perubahan tren warna pakaian menjelang Lebaran tahun ini. Jika sebelumnya warna-warna bumi atau earth tone mendominasi pasar, kini warna butter yellow atau kuning lembut menjadi salah satu yang paling banyak dicari, terutama untuk pakaian wanita.
Sementara untuk pakaian pria, warna-warna netral seperti krem masih menjadi pilihan utama pembeli. Tren warna tersebut terlihat dari banyaknya koleksi pakaian yang dipajang di kios-kios Tanah Abang dengan nuansa kuning pucat dan pastel.
Selain warna, jenis bahan juga menjadi pertimbangan penting bagi pembeli. Dermawan menyebutkan bahwa bahan paper silk saat ini sedang digemari pelanggan. Bahan tersebut dikenal memiliki tekstur tipis dan ringan seperti katun, namun tetap memberikan tampilan yang rapi dan elegan.
Memasuki pertengahan Ramadan, pola pembelian di Tanah Abang juga mulai mengalami perubahan. Jika sebelum bulan puasa pasar ini didominasi oleh pedagang dari berbagai daerah yang membeli barang secara grosir, kini pembeli eceran mulai lebih mendominasi.
Para pengunjung datang untuk membeli pakaian bagi keluarga mereka menjelang Lebaran. Hal ini membuat pedagang mulai lebih banyak melayani penjualan satuan dibandingkan dalam jumlah besar seperti pada awal musim Ramadan.
Bagi para pedagang, keramaian Tanah Abang menjadi tanda pemulihan aktivitas perdagangan setelah masa sulit selama pandemi. Meningkatnya jumlah pengunjung memberikan harapan bagi pelaku usaha agar penjualan terus membaik hingga menjelang hari raya.
Menjelang sore hari, arus pengunjung di Blok B masih terus berdatangan. Papan-papan promosi bertuliskan harga diskon seperti “Sale 35.000” hingga paket pakaian anak menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembeli yang ingin mendapatkan pakaian Lebaran dengan harga terjangkau.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, Tanah Abang kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu pusat perdagangan tekstil dan pakaian jadi yang penting bagi perekonomian. Bagi para pedagang dan pembeli, Lebaran bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum yang menggerakkan roda ekonomi pasar tradisional.