Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, pemerintah terus memperkuat peran industri kecil dan menengah (IKM), khususnya pada subsektor fesyen dan kriya. Upaya ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha agar mampu mengikuti perubahan tren pasar sekaligus menjawab tuntutan global yang semakin dinamis.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri fesyen dan kriya memiliki rantai nilai yang panjang dan saling terintegrasi, mulai dari penyediaan bahan baku hingga distribusi produk ke pasar. Keterhubungan ini menjadi kunci dalam menciptakan nilai tambah serta memperkuat posisi industri Indonesia di tingkat global. Ia juga menyampaikan bahwa sektor ini tetap menjadi salah satu pilar penting dalam ekonomi kreatif nasional.
Kinerja ekspor kedua subsektor tersebut menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, nilai ekspor industri kerajinan mencapai USD 806,63 juta, sementara industri fesyen yang berkaitan dengan pakaian jadi mencatatkan nilai ekspor sebesar USD 8,85 miliar. Capaian ini memperlihatkan bahwa produk kreatif Indonesia memiliki daya tarik kuat di pasar internasional dan berpotensi untuk terus berkembang.
Dalam menghadapi perubahan gaya hidup dan preferensi konsumen, pelaku IKM didorong untuk terus mengembangkan keunggulan desain serta meningkatkan nilai tambah produk. Studi dalam Journal of Product Innovation Management oleh Gemser dan Leenders (2021) menunjukkan bahwa perusahaan yang mengintegrasikan desain dalam proses pengembangan produk memiliki performa yang lebih baik dibandingkan yang tidak. Hal ini menegaskan bahwa desain bukan sekadar aspek estetika, melainkan bagian penting dari strategi bisnis.
Sebagai langkah konkret, Kementerian Perindustrian melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) menggelar forum Design Talk pada 6 Maret 2026 di Badung. Kegiatan ini mengangkat tema “Strategi Penguatan Daya Saing Industri Kreatif melalui Desain” dan menjadi wadah diskusi antara pelaku IKM, akademisi, serta praktisi desain untuk berbagi wawasan dan pengalaman.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Reni Yanita, menjelaskan bahwa kegiatan ini juga melibatkan Asosiasi Desainer Produk Industri Indonesia sebagai mitra strategis dalam memperkuat peran desain dalam pengembangan produk. Sebanyak 75 peserta terlibat dalam diskusi yang mengangkat topik Design as Industrial Foundation, yang bertujuan untuk menyatukan perspektif antara pelaku industri, desainer, dan akademisi.
Kepala BPIFK, Dickie Sulistya, menekankan bahwa peningkatan daya saing IKM tidak hanya bertumpu pada kapasitas produksi, tetapi juga pada inovasi desain dan strategi pengembangan produk yang berkelanjutan. Melalui forum ini, BPIFK berupaya membuka akses pengetahuan sekaligus memperluas jejaring bagi pelaku usaha agar desain dapat menjadi fondasi utama dalam membangun industri yang lebih kuat.
Berbagai program pembinaan yang dijalankan Kementerian Perindustrian mencerminkan komitmen pemerintah dalam memperkuat ekosistem industri kreatif nasional. Dengan mengedepankan inovasi, kolaborasi, dan pemanfaatan desain secara optimal, industri fesyen dan kriya Indonesia diharapkan mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi serta semakin kompetitif di pasar global.