Bayang-bayang konflik di Timur Tengah mulai terasa hingga ke sektor industri di Indonesia, termasuk industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Memasuki kuartal II-2026, para pelaku usaha memilih untuk bersikap lebih waspada, terutama akibat kenaikan biaya logistik yang dipicu oleh ketegangan geopolitik tersebut.
Kenaikan biaya logistik menjadi perhatian utama karena berpengaruh langsung terhadap daya saing industri. Biaya distribusi yang meningkat, ditambah dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), membuat beban produksi semakin berat. Dalam industri TPT, komponen energi dan pengiriman memiliki kontribusi besar terhadap total biaya, sehingga lonjakan pada aspek ini dapat menekan margin usaha sekaligus mengurangi daya saing di pasar ekspor.
Di tengah kondisi tersebut, industri juga masih menghadapi berbagai tantangan lain. Tekanan dari produk impor di pasar domestik belum mereda, sementara di pasar global terjadi perlambatan permintaan serta kelebihan pasokan dari negara produsen besar. Praktik dumping dan dugaan manipulasi aturan asal barang (rules of origin) turut memperumit persaingan, membuat posisi pelaku industri dalam negeri semakin terdesak.
Untuk merespons kondisi ini, pelaku industri mulai melakukan berbagai strategi adaptasi. Efisiensi biaya menjadi langkah utama, diikuti dengan optimalisasi penggunaan energi agar lebih hemat. Selain itu, diversifikasi pasar ekspor juga dilakukan guna mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional. Upaya peningkatan nilai tambah produk pun mulai digencarkan, termasuk dengan beralih ke produk tekstil teknis (technical textile) serta produk yang lebih ramah lingkungan.
Namun, kondisi berbeda dialami oleh industri kecil dan menengah (IKM) tekstil. Pada kuartal II-2026, IKM diperkirakan masih bergantung pada produk umum (common product) yang memiliki tingkat persaingan tinggi. Tanpa adanya perlindungan pasar dari praktik perdagangan yang tidak adil, sektor ini berisiko mengalami penurunan kinerja.
Meski demikian, peluang tetap terbuka, khususnya bagi industri yang berorientasi ekspor. Pasar non-tradisional dan produk bernilai tambah dinilai masih memiliki potensi untuk dikembangkan. Di sisi lain, pasar tradisional seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa tetap menjadi target penting, meskipun membutuhkan dukungan kebijakan yang lebih kuat.
Peran pemerintah menjadi krusial dalam menjaga keberlangsungan industri. Dukungan yang diharapkan meliputi pengendalian impor yang efektif, penegakan aturan perdagangan yang adil, serta pemberian insentif di bidang energi dan logistik. Selain itu, penguatan industri hulu dan dukungan terhadap investasi teknologi juga dinilai penting untuk meningkatkan daya saing jangka panjang.
Dengan berbagai tekanan yang ada, industri TPT Indonesia kini berada dalam fase penuh kehati-hatian. Langkah adaptif dari pelaku usaha, ditambah dengan dukungan kebijakan yang tepat, akan menjadi kunci agar industri ini mampu bertahan dan tetap kompetitif di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu.