Print

Kinerja industri manufaktur Indonesia menunjukkan tanda perlambatan pada Maret 2026. Kementerian Perindustrian mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) berada di level 51,86, masih dalam zona ekspansi namun turun 2,16 poin dibandingkan Februari yang mencapai 54,02. Secara tahunan, angka ini juga melemah 1,12 poin dari posisi Maret 2025 sebesar 52,98.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menjelaskan bahwa dari tiga komponen pembentuk IKI, hanya variabel persediaan yang mengalami peningkatan secara bulanan. Sementara itu, pesanan baru dan produksi justru mengalami penurunan, mencerminkan melemahnya permintaan serta penyesuaian aktivitas industri setelah periode produksi tinggi di awal tahun.

Dari sisi pasar, baik orientasi ekspor maupun domestik sama-sama mengalami penurunan. IKI ekspor turun menjadi 52,73, sedangkan IKI domestik melemah lebih dalam ke level 50,44. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan tidak hanya berasal dari pasar global, tetapi juga dari dalam negeri.

Analisis terhadap 23 subsektor menunjukkan bahwa meskipun 16 subsektor masih berada di zona ekspansi, terdapat tujuh subsektor yang mengalami kontraksi. Beberapa di antaranya meliputi industri minuman, pengolahan tembakau, kayu dan produk turunannya, bahan kimia, barang galian non-logam, elektronik, hingga peralatan listrik. Kondisi ini mencerminkan adanya ketimpangan performa di dalam sektor manufaktur itu sendiri.

Penurunan IKI pada Maret sebagian besar dipengaruhi faktor musiman, terutama setelah berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri. Pada bulan-bulan sebelumnya, pelaku industri cenderung meningkatkan produksi untuk memenuhi lonjakan permintaan. Setelah periode tersebut, aktivitas produksi kembali disesuaikan dengan kondisi stok dan proyeksi pasar.

Selain itu, distribusi barang juga sempat terganggu akibat pembatasan angkutan logistik selama periode mudik. Akibatnya, banyak produk yang masih tertahan di gudang dan belum tersalurkan ke pasar, sehingga mendorong pelaku industri menahan laju produksi.

Di luar faktor domestik, dinamika global turut memberi tekanan. Eskalasi konflik di Timur Tengah mulai berdampak pada sektor tertentu, khususnya industri petrokimia. Gangguan di sektor hulu ini berpotensi merambat ke industri hilir, seperti plastik, makanan dan minuman, hingga otomotif, melalui kenaikan harga bahan baku dan kemasan.

Selain itu, meningkatnya biaya energi dan logistik akibat ketidakpastian geopolitik juga menjadi tantangan tambahan. Jika kondisi ini berlanjut, kinerja indikator industri seperti IKI maupun Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur berpotensi semakin tertekan dalam beberapa bulan ke depan.

Menghadapi situasi tersebut, Kemenperin mendorong pelaku industri untuk meningkatkan efisiensi, khususnya dalam penggunaan energi, serta mengantisipasi kenaikan biaya logistik. Pemerintah juga mengimbau pemanfaatan skema Local Currency Transaction (LCT) dari Bank Indonesia guna meredam dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Di sisi lain, pemerintah berupaya menjaga daya beli dan permintaan domestik sebagai penopang utama industri manufaktur. Berbagai program seperti ketahanan pangan, energi, serta inisiatif pembangunan nasional diharapkan mampu menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga dan permintaan produk industri.

Selain itu, strategi substitusi impor terus didorong melalui penguatan rantai pasok dalam negeri berbasis bahan baku lokal. Dengan pengalaman menghadapi berbagai krisis sebelumnya, termasuk pandemi COVID-19, pemerintah optimistis sektor industri mampu beradaptasi dan bertahan di tengah tantangan yang ada.