Pasar hijab, busana muslim, dan batik yang terus berkembang pesat menjadi pendorong utama pertumbuhan industri printing dan tekstil di Indonesia. Permintaan yang tinggi tidak hanya mencerminkan kekuatan pasar domestik, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan industri berbasis teknologi cetak tekstil.
Ketua Komunitas Printing dan Grafika (Kopi Grafika), Usman Batubara, menyampaikan bahwa kebutuhan akan pakaian, batik print, dan hijab di Indonesia sangat besar dan menjadi kebanggaan nasional. Kondisi ini sekaligus menciptakan peluang signifikan bagi industri printing dalam negeri untuk terus berkembang. Ia mengungkapkan bahwa jumlah unit mesin printing di Indonesia mengalami peningkatan signifikan, dari sekitar 1.500 unit pada 2017 menjadi sekitar 3.000 unit pada tahun ini, khususnya didominasi oleh mesin printing sublime.
Lonjakan kebutuhan tersebut semakin terasa menjelang Ramadan, di mana aktivitas produksi meningkat drastis. Bahkan, terdapat perusahaan printing tekstil di wilayah Depok yang mengoperasikan mesin secara nonstop selama tiga bulan menjelang Lebaran, dengan sistem kerja bergiliran demi memenuhi permintaan pasar. Saat ini, jumlah perusahaan printing tekstil di Indonesia mendekati 2.000, dengan sekitar 90 persen berlokasi di Pulau Jawa.
Di sisi lain, pertumbuhan industri ini juga menghadirkan tantangan pada ketersediaan sumber daya manusia. Kebutuhan tenaga operator mesin printing yang memiliki keahlian khusus belum diimbangi dengan ketersediaan lembaga pendidikan atau pelatihan formal. Akibatnya, terjadi persaingan perebutan tenaga kerja antarperusahaan, bahkan tidak jarang pekerja dari posisi non-teknis seperti cleaning service beralih menjadi operator mesin setelah mendapatkan pelatihan internal.
Persaingan industri juga semakin ketat dari sisi harga. Teknologi mesin printing yang semakin canggih memungkinkan pencetakan pada berbagai jenis bahan, mulai dari katun hingga material premium. Hal ini berdampak pada penurunan biaya produksi, di mana biaya cetak sublime kini berada di kisaran belasan ribu rupiah per meter, bahkan beberapa pelaku industri menawarkan harga di bawah Rp10 ribu.
Untuk menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang, pameran Indo Intertex & Inatex 2026 akan digelar pada 15–18 April 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Direktur PT Peraga Expo, Paul Kingsen, menjelaskan bahwa pameran ini dirancang sebagai platform strategis yang menghadirkan pemasok, teknologi, serta solusi bisnis yang relevan bagi pelaku industri tekstil dan garmen.
Dengan luas area lebih dari 35.000 meter persegi, pameran ini akan diikuti oleh lebih dari 800 peserta yang merepresentasikan 1.500 merek global, serta menargetkan kehadiran lebih dari 35.000 pengunjung profesional dari 29 negara. Kehadiran seluruh rantai nilai industri dalam satu platform diharapkan mampu mempercepat transformasi sektor tekstil sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Momentum positif industri tekstil juga diperkuat oleh kebijakan perdagangan internasional melalui kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat. Kesepakatan ini memberikan fasilitas tarif impor nol persen bagi produk tekstil dan garmen Indonesia melalui skema tariff-rate quota (TRQ), sehingga meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global.
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, menyatakan bahwa kebijakan tersebut memberikan optimisme baru bagi industri tekstil nasional. Dengan nilai ekspor yang saat ini mencapai sekitar USD4 miliar, industri tekstil Indonesia menargetkan pertumbuhan hingga sepuluh kali lipat dalam satu dekade ke depan.
Selain memperkuat ekspor, industri tekstil juga memiliki peran strategis dalam menyerap tenaga kerja, dengan kontribusi terhadap sekitar 4 juta pekerja secara langsung dan memberikan dampak ekonomi bagi hingga 20 juta masyarakat Indonesia. Hal ini menjadikan sektor tekstil sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan industri nasional.
Sejalan dengan penguatan ekosistem industri, upaya menuju sertifikasi halal 2026 juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan daya saing produk tekstil Indonesia. Dengan integrasi antara pertumbuhan industri, adopsi teknologi, dan kepatuhan terhadap standar halal, Indonesia semakin optimistis untuk memperkuat posisinya sebagai pusat industri halal global.