Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah membawa dampak berantai terhadap berbagai sektor industri global, termasuk industri tekstil di Indonesia. Ketidakpastian geopolitik yang terjadi turut memengaruhi stabilitas pasokan bahan baku serta mendorong kenaikan biaya produksi. Dalam situasi ini, pelaku usaha tekstil mulai mengalihkan strategi dengan memfokuskan target pasar ke dalam negeri sebagai langkah bertahan.
Perubahan arah pasar ini bukan tanpa alasan. Ketergantungan terhadap pasar internasional kini dinilai lebih berisiko di tengah fluktuasi global yang sulit diprediksi. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Farhan Aqil Syauqi, menjelaskan bahwa para pelaku industri tidak hanya mengalihkan pasar, tetapi juga melakukan penyesuaian pada lini produksi dengan menghadirkan produk bernilai tambah lebih tinggi. Langkah tersebut diambil guna menjaga keberlangsungan bisnis dalam jangka pendek maupun menengah.
Strategi pengalihan fokus ke pasar domestik sejatinya bukan hal baru. Pendekatan serupa pernah diterapkan saat pandemi Covid-19 melanda, ketika aktivitas perdagangan global mengalami perlambatan signifikan. Kini, dengan kondisi yang hampir serupa, pasar dalam negeri kembali dipandang sebagai penopang utama bagi industri tekstil nasional.
Di tengah tantangan tersebut, peluang tetap terbuka melalui inovasi bahan baku. Pimpinan PT Asia Pacific Rayon, Aryo Oetomo, menyoroti potensi serat viscose sebagai alternatif strategis untuk meningkatkan daya saing industri. Indonesia dinilai memiliki keunggulan sumber daya alam berbasis kayu yang dapat diolah menjadi bahan baku tekstil, seperti rayon atau viscose, yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Pemanfaatan sumber daya lokal ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian industri. Selain itu, penguatan sektor petrokimia dalam negeri juga dinilai penting untuk menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku utama. Dukungan infrastruktur energi, termasuk ketersediaan jaringan gas untuk industri, turut menjadi faktor penentu dalam menciptakan efisiensi produksi.
Jika ekosistem industri dapat terintegrasi dari hulu hingga hilir, ketergantungan terhadap impor diperkirakan akan menurun. Hal ini menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan industri tekstil nasional di tengah tekanan global yang terus berkembang.
Namun demikian, tantangan belum sepenuhnya mereda. Kenaikan harga bahan baku dalam beberapa waktu terakhir memberikan tekanan signifikan terhadap biaya produksi. Ketua Umum Asosiasi Produsen Benang dan Filamen Indonesia, Redma Gita Wirawasta, mengungkapkan bahwa sejumlah komponen utama seperti paraxylene (PX), purified terephthalic acid (PTA), dan monoethylene glycol (MEG) mengalami lonjakan harga hingga sekitar 40 persen. Dampaknya, harga produk berbahan dasar polyester turut mengalami kenaikan dalam persentase yang sama.
Berbeda dengan polyester, bahan berbasis rayon relatif lebih stabil karena hanya dipengaruhi oleh satu komponen utama. Hal ini menjadikan rayon sebagai alternatif yang lebih kompetitif di tengah gejolak harga bahan baku global.
Selain tekanan dari sisi bahan baku, sektor logistik juga menjadi tantangan tersendiri. Kenaikan biaya pengiriman, khususnya pada asuransi, semakin membebani pelaku industri. Kondisi ini membatasi ruang gerak perusahaan dalam menjaga efisiensi biaya secara keseluruhan.
Meski demikian, dari sisi pasokan, kondisi masih relatif aman dalam jangka pendek. APSyFI menyebutkan bahwa ketersediaan bahan mentah diproyeksikan tetap terjaga hingga April 2026, didukung oleh pasokan dari Pertamina, terutama untuk bahan baku paraxylene yang menjadi komponen penting dalam produksi poliester.
Dengan berbagai dinamika yang terjadi, industri tekstil Indonesia kini dituntut untuk lebih adaptif dan inovatif. Pergeseran fokus ke pasar domestik, pemanfaatan sumber daya lokal, serta penguatan ekosistem industri menjadi langkah strategis untuk menjaga ketahanan di tengah tekanan global yang belum menunjukkan tanda mereda.