Print

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional kembali menunjukkan tanda-tanda pemulihan di tengah tekanan global yang masih berlangsung. Pemerintah menilai sektor ini tidak lagi tepat disebut sebagai industri yang meredup, melainkan tengah memasuki fase pertumbuhan baru yang lebih optimistis.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa narasi mengenai industri TPT sebagai sunset industry sebenarnya sudah muncul sejak awal dirinya ditugaskan oleh Presiden Joko Widodo sekitar tujuh tahun lalu. Namun, ia sejak awal meragukan pandangan tersebut.

Menurutnya, narasi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata industri di dalam negeri. Ia bahkan menduga ada upaya tertentu yang sengaja membentuk opini bahwa industri tekstil Indonesia sedang melemah, dengan tujuan membuka jalan bagi produk impor untuk menguasai pasar domestik.

Pernyataan itu disampaikan saat acara di JIEXPO Kemayoran pada Rabu (15/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa pemerintah bersama pelaku industri dan asosiasi telah mengambil langkah strategis untuk membalikkan persepsi tersebut melalui kebijakan yang lebih adaptif dan kolaboratif.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Sepanjang tahun 2025, sektor TPT mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,55 persen secara tahunan. Nilai ekspor mencapai USD12,08 miliar dengan surplus USD3,45 miliar, yang sebagian besar ditopang oleh kinerja ekspor pakaian jadi. Capaian ini menjadi indikator bahwa sektor tekstil nasional masih memiliki daya saing di pasar global.

Selain itu, minat investasi di sektor ini juga tetap kuat. Industri TPT berhasil menarik investasi sebesar Rp20,23 triliun, mencerminkan kepercayaan pelaku usaha yang masih terjaga meski di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini tetap menjadi salah satu tulang punggung industri pengolahan nasional dengan menyerap sekitar 3,96 juta tenaga kerja atau hampir 20 persen dari total tenaga kerja di sektor tersebut. Hal ini menegaskan peran strategis industri TPT sebagai sektor padat karya yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional.

Meski demikian, pemerintah mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dihadapi bersama. Kenaikan harga bahan baku global, disrupsi rantai pasok, serta dinamika permintaan pasar internasional menjadi faktor yang harus diantisipasi secara cermat.

Untuk itu, sinergi antara pemerintah, asosiasi seperti Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan sektor ini. Dengan langkah yang tepat dan terukur, industri tekstil nasional diyakini mampu terus berkembang dan memperkuat posisinya di pasar domestik maupun global.