Print

Perkembangan tren fesyen yang semakin cepat telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap pakaian. Kini, pakaian tidak lagi sekadar kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi sarana ekspresi diri, identitas, hingga simbol gaya hidup. Istilah “fashion statement” pun semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari, mencerminkan bagaimana pilihan busana mampu merepresentasikan kepribadian seseorang di ruang publik.

Namun, di balik gemerlap industri fesyen, tersembunyi persoalan yang kerap luput dari perhatian. Sebagian besar pakaian yang beredar saat ini dibuat dari bahan sintetis seperti poliester. Diperkirakan sekitar 70 persen pakaian berbahan dasar plastik, yang berdampak pada meningkatnya limbah tekstil yang sulit terurai. Tidak seperti bahan alami, limbah sintetis membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk terdegradasi, sehingga memperburuk kondisi lingkungan.

Dampak tersebut tidak berhenti pada persoalan sampah. Pakaian berbahan sintetis juga menjadi sumber mikroplastik yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Partikel kecil ini dapat terlepas saat proses pencucian dan penggunaan, lalu masuk ke rantai makanan hingga akhirnya dikonsumsi manusia. Sebuah studi oleh Zhao dan You menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia bahkan menjadi salah satu yang paling tinggi dalam mengonsumsi mikroplastik, dengan rata-rata mencapai 15 gram per bulan.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar tentang arah industri sandang nasional. Di tengah tingginya penggunaan bahan sintetis, Indonesia justru masih sangat bergantung pada impor kapas sebagai bahan baku alami. Penelitian yang dilakukan oleh Bahagiawati dan Bermawie mengungkapkan bahwa ketergantungan impor kapas Indonesia mencapai 99,5 persen. Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi sumber daya lokal dan praktik industri yang berjalan saat ini.

Padahal, secara geografis dan iklim, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan produksi kapas dalam negeri. Namun, realitas menunjukkan bahwa penggunaan bahan sintetis lebih dipilih karena biaya produksi yang lebih rendah. Akibatnya, selain meningkatkan volume limbah tekstil, kondisi ini juga berkontribusi terhadap melemahnya warisan sandang lokal yang seharusnya bisa dikembangkan secara berkelanjutan.

Persoalan ini semakin kompleks dengan masuknya pakaian impor, termasuk pakaian bekas, dalam jumlah besar. Tidak semua pakaian tersebut layak digunakan kembali. Sebagian besar justru berakhir sebagai limbah yang menumpuk di tempat pembuangan akhir. Hal ini memperlihatkan bahwa masalah sandang tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga pola konsumsi masyarakat.

Dalam konteks ini, praktik donasi pakaian yang selama ini dianggap sebagai tindakan sosial pun perlu ditinjau kembali. Tanpa pengelolaan yang tepat, donasi justru berpotensi menjadi cara terselubung untuk membuang barang. Banyak pakaian yang disumbangkan tidak sesuai kebutuhan atau dalam kondisi tidak layak, sehingga akhirnya menjadi beban baru bagi lingkungan dan pihak penerima.

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan sandang tidak dapat diselesaikan hanya melalui kesadaran individu semata. Diperlukan peran sistem, kebijakan, serta penegakan hukum yang lebih tegas untuk mengatasi persoalan limbah tekstil dan impor pakaian. Tanpa langkah konkret, peningkatan jumlah sampah akan terus terjadi tanpa kendali yang jelas.

Sebagai alternatif, konsep slow fashion mulai dilirik sebagai solusi yang lebih berkelanjutan. Pendekatan ini menekankan pentingnya kesadaran dalam mengonsumsi, seperti membeli pakaian secara bijak, menggunakan barang lebih lama, serta memahami dampak lingkungan dari setiap pilihan. Slow fashion bukan sekadar tren, melainkan perubahan pola pikir dalam memandang pakaian sebagai kebutuhan yang memiliki konsekuensi jangka panjang.

Lebih jauh, upaya membangun sistem sandang yang berkelanjutan di Indonesia perlu berangkat dari konteks lokal. Pengembangan kapas dalam negeri, penguatan industri tekstil berbasis bahan alami, serta pemberdayaan masyarakat menjadi langkah strategis yang dapat ditempuh. Keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga tentang kesejahteraan sosial dan kemandirian ekonomi.

Pada akhirnya, persoalan sandang mencerminkan dilema antara kebutuhan, gaya hidup, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Ketika pakaian yang dikenakan setiap hari justru berpotensi merusak ekosistem dan kesehatan manusia, maka sudah saatnya masyarakat dan pemerintah bersama-sama merumuskan arah baru industri fesyen yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak pada masa depan.