Print

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta digitalisasi dalam proses produksi guna meningkatkan produktivitas di tengah tekanan biaya operasional dan kenaikan upah tenaga kerja.

Langkah transformasi tersebut dinilai dapat mengubah kebutuhan tenaga kerja di sektor yang selama ini dikenal sebagai industri padat karya. Pemanfaatan otomatisasi dan teknologi digital memungkinkan perusahaan meningkatkan output produksi secara lebih efisien tanpa harus menambah jumlah pekerja secara signifikan.

Ketua Umum Asosiasi Garment & Textile Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto mengatakan penggunaan AI menjadi kebutuhan bagi industri tekstil agar tetap mampu bersaing di tengah tekanan inflasi dan meningkatnya biaya produksi.

Menurutnya, industri sandang selama puluhan tahun menghadapi tekanan inflasi yang tinggi, sementara perusahaan tetap dituntut menjaga daya beli masyarakat melalui harga produk yang kompetitif. Di sisi lain, biaya tenaga kerja terus mengalami kenaikan dari waktu ke waktu.

Ia menilai teknologi menjadi solusi untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas industri dan kemampuan perusahaan dalam membayar upah pekerja. Dengan dukungan otomatisasi dan AI, peningkatan kapasitas produksi diharapkan tidak membebani biaya operasional secara berlebihan.

Saat ini, industri TPT disebut menyerap sekitar 3 juta tenaga kerja langsung dengan nilai perputaran mencapai sekitar US$43 miliar, yang terdiri atas pasar domestik sekitar US$30 miliar dan ekspor sekitar US$12 miliar hingga US$13 miliar. Namun, nilai tambah industri masih berada pada kisaran 20–30 persen.

Ke depan, industri menargetkan peningkatan nilai hingga mencapai US$100 miliar melalui penguatan ekspor dan kontribusi lebih besar terhadap produk domestik bruto (PDB) sektor sandang. Dalam proyeksi tersebut, kebutuhan tenaga kerja diperkirakan berada di kisaran 2 juta orang dengan kualitas dan produktivitas yang lebih tinggi.

Meski demikian, Anne menegaskan transformasi digital bukan berarti menghilangkan peran pekerja, melainkan mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Menurutnya, tantangan industri saat ini bukan hanya menciptakan teknologi, tetapi juga memastikan sumber daya manusia mampu mengoperasikan dan memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal.

Ia juga mengingatkan agar pelaku industri tidak memandang teknologi sebagai ancaman. Pemanfaatan AI justru dinilai dapat memperkuat daya saing industri nasional di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Selain penguatan teknologi dan SDM, industri tekstil juga mendorong dukungan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri, termasuk optimalisasi bahan baku impor menjadi produk bernilai tinggi untuk pasar ekspor.

Dukungan terhadap investasi dan ekspansi industri dinilai penting agar transformasi sektor manufaktur dapat berjalan lebih optimal dan mampu menjaga keberlanjutan industri tekstil nasional di era digital.