Print

Industri tekstil nasional kembali menghadapi tekanan berat akibat membanjirnya kain impor asal Tiongkok di pasar domestik. Produk impor dengan harga jauh lebih murah membuat industri lokal kesulitan bersaing, baik dari sisi biaya produksi maupun teknologi, sehingga sejumlah perusahaan terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran hingga pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh PT Delta Merlin Sandang Tekstil (DMST) 1 Sragen yang berada di bawah naungan Duniatex Group. Perwakilan Advokasi DMST 1, Suparno, menyebutkan bahwa harga kain impor dari China berada jauh di bawah biaya produksi industri dalam negeri sehingga produk lokal sulit terserap pasar.

Menurutnya, kain impor dijual di kisaran Rp7.000 hingga Rp8.000 per meter, sementara biaya produksi kain lokal membuat harga jual minimal berada di angka Rp15.000. Perbedaan tersebut diperparah dengan ketertinggalan teknologi di industri tekstil nasional yang masih menggunakan mesin lama, sedangkan pabrik di China telah memakai teknologi modern hingga sistem otomatisasi berbasis robot.

Akibat tekanan tersebut, produksi perusahaan mengalami penurunan drastis hingga mencapai 60 sampai 70 persen. Dampaknya, perusahaan harus melakukan pengurangan tenaga kerja dalam jumlah besar untuk menekan biaya operasional.

Dari total sekitar 4.800 pekerja sebelumnya, kini jumlah karyawan di DMST 1 Sragen tersisa sekitar 1.270 orang. Artinya, lebih dari 60 persen tenaga kerja telah terdampak PHK. Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain dalam jaringan perusahaan yang sama.

Di Demak, empat perusahaan yang masih berada dalam grup Duniatex bahkan dilaporkan telah menghentikan operasional secara total atau force close akibat tekanan pasar yang semakin berat. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak impor murah tidak hanya menurunkan produksi, tetapi juga mengancam keberlangsungan industri tekstil nasional secara keseluruhan.

Meski empat unit DMST di Sragen masih beroperasi, keberlanjutan usaha dinilai semakin rentan jika tidak ada langkah konkret dari pemerintah. Pelaku industri berharap pemerintah segera memperketat pembatasan impor kain agar produk lokal dapat kembali bersaing di pasar domestik.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, gelombang PHK dikhawatirkan akan semakin meluas dan berpotensi meruntuhkan ekosistem industri tekstil nasional yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi ribuan pekerja di berbagai daerah.