Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional masih berada dalam kondisi yang terkendali di tengah dinamika global yang memengaruhi harga dan pasokan bahan baku. Meski tekanan dari pasar internasional terus terjadi, sektor TPT dinilai tetap mampu menjaga keberlangsungan produksi melalui berbagai langkah adaptasi dan penguatan koordinasi antar pelaku industri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa pemerintah terus memantau perkembangan harga bahan baku global yang berdampak langsung pada industri dalam negeri. Penguatan koordinasi dilakukan guna memastikan ketersediaan bahan baku serta menjaga kelancaran rantai pasok agar aktivitas produksi industri tetap berjalan stabil.
Dalam rapat koordinasi bersama asosiasi dan pelaku usaha, terungkap bahwa tekanan terbesar saat ini berasal dari kenaikan harga bahan baku berbasis energi di pasar global. Harga paraxylene (PX) domestik tercatat mengalami kenaikan sekitar 40 persen mengikuti pergerakan harga internasional. Sementara itu, pasokan bahan baku kimia seperti monoethylene glycol (MEG) masih dinilai aman hingga April, meski perkembangan setelah periode tersebut masih terus dipantau.
Kenaikan harga bahan baku tersebut berdampak pada peningkatan biaya produksi di sepanjang rantai industri, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Tidak hanya memengaruhi harga kain dan produk intermediate, kenaikan biaya juga dirasakan pada komponen pendukung seperti kemasan berbasis plastik. Di sisi lain, dinamika pasar global turut memengaruhi aktivitas ekspor, termasuk adanya retur barang di sejumlah kasus tertentu.
Meski demikian, industri TPT nasional dinilai masih menunjukkan kemampuan adaptasi yang cukup baik. Pelaku usaha terus menjaga kelangsungan produksi melalui pengelolaan stok, penyesuaian strategi pengadaan bahan baku, hingga memperkuat koordinasi dengan pemasok. Permintaan pasar domestik juga masih bergerak aktif, sementara peluang ekspor tetap terbuka seiring perubahan kondisi di negara pesaing.
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Rizky Aditya Wijaya menjelaskan bahwa keberadaan serat rayon berbasis sumber daya alam dalam negeri menjadi salah satu penopang penting dalam menjaga keseimbangan industri nasional. Menurutnya, di tengah tekanan pada bahan baku berbasis petrokimia seperti polyester, rayon domestik mampu menjadi alternatif bahan baku yang lebih kompetitif sekaligus memperkuat kemandirian industri.
Ia menambahkan, sinergi antara serat alam dan serat sintetis menjadi bagian dari strategi adaptasi industri nasional dalam menghadapi perubahan global sekaligus menjaga keberlanjutan produksi sektor hilir. Namun demikian, beberapa subsektor tetap membutuhkan perhatian khusus, terutama industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku spesifik tanpa substitusi.
Salah satu contoh yang disoroti adalah industri hygiene seperti popok bayi yang sangat bergantung pada sejumlah komponen utama tertentu. Ketersediaan setiap bahan baku menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlangsungan produksi di subsektor tersebut.
Pemerintah bersama pelaku industri memandang situasi saat ini sebagai fase penting untuk memetakan dampak lanjutan dari dinamika global. Berbagai langkah antisipasi terus dilakukan, mulai dari pemetaan komoditas bahan baku kritikal hingga identifikasi potensi risiko secara dini untuk memastikan kesiapan industri menghadapi berbagai kemungkinan ke depan.
Sebagai bagian dari penguatan respons kebijakan, Kementerian Perindustrian juga tengah mengembangkan sistem monitoring terpadu berbasis data real-time guna memantau kondisi industri secara lebih cepat dan akurat. Selain itu, sejumlah opsi kebijakan tengah dikaji, termasuk pemberian insentif fiskal untuk bahan baku strategis, dukungan efisiensi energi, hingga penyesuaian kebijakan perdagangan demi menjaga kelancaran pasokan bahan baku industri.
Pemerintah menilai sinkronisasi kebijakan dari sisi tarif, fasilitas fiskal, energi, hingga instrumen perdagangan menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan rantai nilai industri dari sektor hulu sampai hilir. Dengan fondasi industri yang dinilai cukup kuat, baik dari sisi struktur maupun pasar domestik, pemerintah optimistis industri TPT nasional mampu bertahan dan semakin tangguh menghadapi berbagai tantangan global di masa mendatang.