Print

Ketergantungan ekspor kawasan Ciayumajakuning terhadap pasar Amerika Serikat dinilai mulai menjadi ancaman bagi stabilitas industri regional di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Kondisi tersebut mendorong perlunya diversifikasi pasar ekspor serta penguatan hilirisasi industri agar pertumbuhan ekonomi kawasan Rebana tetap terjaga secara berkelanjutan.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, mengatakan struktur ekspor Ciayumajakuning saat ini masih terlalu terkonsentrasi pada pasar Amerika Serikat. Menurutnya, situasi itu membuat industri daerah rentan terhadap perlambatan ekonomi global, perubahan tarif perdagangan, hingga dinamika geopolitik internasional.

“Ketergantungan pasar ekspor yang terlalu besar terhadap satu negara akan meningkatkan risiko bagi industri daerah ketika terjadi pelemahan permintaan global ataupun perubahan kebijakan perdagangan,” ujar Wihujeng, Selasa (26/5/2026).

Ia menyebut kontribusi ekspor ke Amerika Serikat mencapai 47,17% dari total ekspor kawasan Ciayumajakuning. Dominasi tersebut berasal dari sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), manufaktur pengolahan, hingga industri berbasis kerajinan dan batik.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera diantisipasi melalui perluasan pasar ekspor baru ke kawasan ASEAN, Timur Tengah, dan Afrika agar struktur perdagangan regional menjadi lebih sehat dan tidak bergantung pada satu negara tujuan utama.

Selain memperluas pasar ekspor, pemerintah daerah juga didorong mempercepat hilirisasi industri agar produk unggulan daerah memiliki nilai tambah lebih tinggi. Selama ini, sebagian komoditas unggulan masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah maupun setengah jadi sehingga lebih rentan terhadap fluktuasi harga global.

Wihujeng menilai berbagai sektor unggulan di Ciayumajakuning memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk ekspor premium, mulai dari batik, pangan olahan, hasil perikanan, hingga industri tekstil. Namun, pengembangan tersebut perlu didukung penguatan desain, teknologi produksi, dan akses pasar internasional.

Di sisi lain, transformasi ekonomi kawasan Rebana yang mulai bergerak menuju basis industri juga dinilai membutuhkan penguatan kualitas sumber daya manusia. Kebutuhan tenaga kerja industri disebut terus berubah seiring berkembangnya kawasan Rebana sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah timur Jawa Barat.

Karena itu, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha dinilai perlu membangun sistem pendidikan vokasi dan pelatihan kerja yang lebih adaptif terhadap kebutuhan industri masa depan.

“Investasi industri harus memberikan manfaat langsung bagi tenaga kerja lokal. Maka penguatan kualitas SDM menjadi sangat penting agar masyarakat daerah tidak hanya menjadi penonton,” katanya.

Bank Indonesia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara industrialisasi dan ketahanan pangan. Ekspansi kawasan industri dinilai mulai memberi tekanan terhadap keberadaan lahan pertanian produktif di sejumlah wilayah Ciayumajakuning, terutama di Indramayu dan Kabupaten Cirebon yang selama ini menjadi salah satu penopang produksi pangan di Jawa Barat.

Di tengah risiko perubahan iklim dan ketidakpastian pasokan global, perlindungan lahan pangan dinilai menjadi isu strategis jangka panjang. Pemerintah daerah pun didorong mempercepat mekanisasi pertanian, digitalisasi sektor pangan, serta memperkuat kerja sama antarwilayah guna menjaga stabilitas pasokan dan produktivitas pertanian.

Wihujeng menegaskan transformasi ekonomi kawasan memang tidak dapat dihindari. Namun, arah pembangunan harus tetap dijaga agar berlangsung inklusif dan berkelanjutan.

“Pertumbuhan industri penting untuk mendorong ekonomi daerah, tetapi harus tetap menjaga ketahanan pangan, memperkuat SDM, dan memperluas pasar agar ekonomi kawasan lebih resilien menghadapi tekanan global,” ujarnya.