Print

Industri tekstil dan alas kaki terus menjadi sektor strategis yang berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. Selain berperan sebagai penyumbang ekspor nonmigas, kedua industri tersebut juga memiliki peran penting dalam menciptakan lapangan kerja dan memperkuat sektor manufaktur nasional. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, peningkatan daya saing melalui kolaborasi, inovasi, dan adopsi teknologi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.

Presiden Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesoris Indonesia (APGAI), Hendry Sagoro, menilai bahwa industri tekstil nasional membutuhkan wadah yang mampu mempertemukan seluruh pelaku usaha dalam satu ekosistem yang terintegrasi. Menurutnya, penguatan jaringan bisnis dan akses terhadap perkembangan teknologi menjadi faktor penting untuk mendukung pertumbuhan industri yang berkelanjutan.

Menjawab kebutuhan tersebut, Indonesia International Textile & Clothing Industry Fair (ITC) 2026 hadir untuk pertama kalinya sebagai ajang yang mempertemukan pelaku industri tekstil dari berbagai negara. Pameran ini menghadirkan pemasok bahan baku, produsen aksesori, penyedia teknologi, hingga calon pembeli dalam satu platform yang bertujuan memperluas peluang bisnis dan memperkuat kolaborasi industri.

Melalui ITC 2026, para pelaku usaha dapat mengeksplorasi berbagai inovasi terbaru mulai dari bahan baku, kain, aksesori garmen, hingga teknologi produksi yang mendukung efisiensi dan peningkatan produktivitas. Kehadiran peserta internasional juga membuka kesempatan terjadinya transfer pengetahuan, pertukaran pengalaman, dan pengembangan jaringan bisnis yang lebih luas.

Tidak hanya sektor tekstil, industri alas kaki juga mendapat perhatian melalui penyelenggaraan Indonesia International Footwear Machinery & Material Industry Fair (IFM) 2026. Pameran ini menjadi wadah bagi pelaku industri untuk mengenal berbagai perkembangan terbaru di bidang mesin, material, komponen, serta solusi manufaktur yang dapat meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi.

Founder PT Sumber Kreasi Fumiko, Yongki Komaladi, menilai bahwa industri alas kaki Indonesia memiliki prospek pertumbuhan yang sangat baik seiring meningkatnya permintaan pasar. Namun, untuk memanfaatkan peluang tersebut secara optimal, pelaku industri perlu terus berinvestasi pada inovasi dan teknologi agar mampu memenuhi standar kualitas yang semakin tinggi di pasar global.

Menurutnya, IFM 2026 dapat menjadi sarana penting bagi pelaku usaha untuk memperoleh akses terhadap perkembangan teknologi terkini, termasuk otomatisasi produksi, inovasi material, serta berbagai solusi yang mendukung efisiensi operasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat daya saing produk alas kaki Indonesia di pasar internasional.

Penyelenggaraan ITC dan IFM 2026 di ICE BSD, Tangerang, Banten, pada 18–20 Juni 2026 diharapkan mampu menjadi momentum bagi industri tekstil dan alas kaki nasional untuk mempercepat transformasi menuju industri yang lebih modern, inovatif, dan berdaya saing tinggi. Melalui kolaborasi yang terbangun antara pelaku usaha, pemasok, penyedia teknologi, dan pembeli global, Indonesia berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat manufaktur strategis di kawasan serta meningkatkan kontribusi sektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.