Print

Upaya memperkuat kemandirian industri tekstil nasional kembali mendapat dorongan dari pemerintah melalui pengembangan model koperasi yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus meningkatkan daya saing produk tekstil dalam negeri.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mendorong Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia untuk membangun ekosistem industri tekstil yang mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari penyediaan bahan baku hingga produk jadi. Menurutnya, koperasi dapat menjadi instrumen strategis dalam mewujudkan transformasi ekonomi nasional yang berlandaskan prinsip Ekonomi Pancasila.

Dorongan tersebut disampaikan saat peresmian Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia dalam rangkaian peringatan Hari Lahir Bung Karno di Sanur, Bali. Ferry menegaskan bahwa koperasi memiliki posisi penting dalam agenda pembangunan ekonomi yang menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan utama.

Ia menjelaskan bahwa industri dalam negeri saat ini masih menghadapi tantangan besar berupa derasnya arus produk impor yang menekan daya saing pelaku usaha nasional, termasuk sektor tekstil dan fesyen. Karena itu, penguatan kapasitas produksi domestik perlu dilakukan secara menyeluruh agar Indonesia tidak terus bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Ferry mendorong terjalinnya kolaborasi antara Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia dan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI). Sinergi tersebut diharapkan mampu membangun rantai pasok tekstil nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Menurutnya, koperasi perlu mulai mengembangkan sektor hulu melalui pembukaan lahan perkebunan kapas, pembangunan industri pengolahan tekstil, hingga sektor garmen. Dengan demikian, kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi dari dalam negeri sehingga nilai tambah industri juga dapat dinikmati oleh masyarakat Indonesia.

Ketua Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia, Rieke Diah Pitaloka, menyampaikan bahwa koperasi yang dipimpinnya dibentuk tidak semata-mata untuk mengejar keuntungan ekonomi. Lebih dari itu, koperasi diharapkan menjadi sarana memperkuat kedaulatan ekonomi rakyat melalui kepemilikan dan pengelolaan usaha secara bersama-sama.

Menurut Rieke, koperasi harus mampu mengorganisir berbagai kelompok masyarakat produktif, mulai dari petani, nelayan, pelaku UMKM hingga generasi muda. Dengan wadah yang kuat, kelompok-kelompok tersebut dapat memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam sistem ekonomi nasional.

Ia menambahkan bahwa tujuan jangka panjang yang ingin dicapai adalah membangun kemandirian ekonomi nasional melalui penguasaan rantai nilai produksi di dalam negeri. Upaya tersebut sejalan dengan semangat berdikari yang menekankan kemampuan bangsa untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa ketergantungan berlebihan pada pihak luar.

Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Daerah APPMI Bali, Kadek Wira Dika, menegaskan komitmennya untuk meningkatkan daya saing produk wastra Bali di pasar global. Berbagai produk tradisional seperti endek, tenun, dan songket dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari kekuatan industri fesyen nasional.

Penguatan kolaborasi antara koperasi, pelaku industri, dan komunitas kreatif diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pembangunan industri tekstil nasional yang lebih mandiri, berdaya saing, dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.