Print

Pemerintah Indonesia terus memperkuat upaya ekspansi industri nasional ke pasar internasional dengan menjajaki kerja sama yang lebih erat bersama Tajikistan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk memperluas akses pasar manufaktur Indonesia ke kawasan Eurasia sekaligus membuka peluang investasi dan pengembangan industri yang saling menguntungkan.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa kolaborasi industri antarnegara memiliki peran penting dalam mendorong inovasi, memperluas pasar, serta menciptakan peluang investasi baru yang mampu memberikan nilai tambah bagi seluruh pihak yang terlibat.

Menurutnya, Indonesia dan Tajikistan memiliki karakteristik ekonomi yang saling melengkapi. Indonesia dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Asia Tenggara dengan keunggulan pada sektor otomotif, elektronik, tekstil, serta industri pengolahan berbasis sumber daya alam. Sementara itu, Tajikistan tengah fokus mengembangkan industri berbasis mineral, aluminium, tekstil, dan teknologi baru.

Peluang sinergi tersebut menjadi topik utama dalam pertemuan bilateral antara Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, Tri Supondy, dengan Wakil Menteri Perindustrian dan Teknologi Baru Republik Tajikistan, Aziz Nazar. Kedua pihak membahas berbagai peluang kerja sama yang diyakini mampu memperkuat hubungan industri dan ekonomi antara kedua negara.

Indonesia memandang Tajikistan sebagai mitra strategis sekaligus gerbang menuju kawasan Commonwealth of Independent States (CIS). Posisi tersebut dinilai penting untuk memperluas penetrasi produk manufaktur Indonesia ke pasar Eurasia yang memiliki potensi pertumbuhan cukup besar.

Hubungan ekonomi kedua negara juga menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir. Nilai perdagangan Indonesia dan Tajikistan tercatat meningkat dari USD 1,7 juta pada tahun 2021 menjadi USD 1,9 juta pada tahun 2025. Sebagian besar kontribusi perdagangan tersebut berasal dari sektor nonmigas, yang menunjukkan masih terbukanya ruang pengembangan kerja sama yang lebih luas di masa mendatang.

Tri Supondy menyatakan bahwa penguatan hubungan dengan negara-negara mitra merupakan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan konektivitas industri dan menciptakan peluang baru bagi pelaku usaha Indonesia. Melalui perluasan jejaring industri, peningkatan investasi, serta pengembangan kerja sama yang produktif, Indonesia berharap dapat memperkuat daya saing industrinya di pasar global.

Selain membahas peluang perdagangan dan investasi, pertemuan tersebut juga menindaklanjuti usulan nota kesepahaman (MoU) bidang industri yang sebelumnya diajukan oleh pemerintah Tajikistan. Kedua negara berupaya menyempurnakan ruang lingkup kerja sama agar sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing pihak.

Dalam pembahasan tersebut, Indonesia dan Tajikistan mengidentifikasi sejumlah sektor prioritas yang berpotensi menjadi fokus kolaborasi. Beberapa di antaranya adalah pengembangan rantai pasok mineral kritis, industri farmasi dan alat kesehatan, serta pengembangan ekosistem industri halal. Ketiga sektor tersebut dinilai memiliki prospek yang menjanjikan dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi kedua negara.

Pertemuan bilateral ini juga dimanfaatkan Indonesia untuk memperkenalkan partisipasinya sebagai Partner Country pada INNOPROM International Industrial Exhibition 2026 yang akan berlangsung di Ekaterinburg, Rusia, pada 6–9 Juli 2026. Keikutsertaan Indonesia dalam pameran industri terbesar di kawasan Eurasia tersebut diharapkan dapat meningkatkan promosi produk manufaktur nasional sekaligus membuka peluang kemitraan baru dengan pelaku industri dan investor dari berbagai negara.