Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional semakin dituntut untuk meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas produksi di tengah perubahan kebutuhan pasar yang berlangsung cepat. Perkembangan teknologi digital, otomatisasi, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini menjadi salah satu solusi yang mulai diadopsi pelaku industri untuk mempercepat proses produksi sekaligus meningkatkan akurasi dalam pengambilan keputusan.
Kementerian Perindustrian mencatat sektor tekstil dan produk tekstil saat ini menyerap sekitar 3,96 juta tenaga kerja dan berhasil menarik investasi sebesar Rp20,23 triliun. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, peningkatan produktivitas dan efisiensi operasional menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri nasional.
Perkembangan tersebut mendorong berbagai perusahaan teknologi menghadirkan solusi manufaktur yang mengintegrasikan mesin produksi dengan sistem berbasis AI dan analisis data. Salah satunya dilakukan oleh Jack Technology melalui peluncuran SmartLink Master dalam sebuah ajang industri di Ho Chi Minh City, Vietnam, pada 16 Juni 2026.
CEO Jack Technology Moli mengatakan transformasi menuju manufaktur cerdas semakin relevan bagi industri tekstil dan garmen di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Menurutnya, upaya modernisasi industri menjadi kebutuhan untuk menjawab tantangan pasar yang terus berubah.
“Transformasi menuju manufaktur cerdas semakin relevan bagi industri tekstil dan garmen di kawasan Asia Tenggara, termasuk di sejumlah negara seperti Indonesia dan Vietnam. Di Indonesia, misalnya, pemerintah setempat bertekad merevitalisasi industri tekstil dan garmen,” ujar Moli dalam keterangan resminya, Rabu (24/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa industri garmen saat ini menghadapi tuntutan untuk menghasilkan produk yang semakin beragam dengan waktu produksi yang lebih singkat. Kondisi tersebut membuat sistem produksi yang terintegrasi dan berbasis data menjadi semakin penting untuk mendukung operasional perusahaan.
Teknologi SmartLink Master menggabungkan kecerdasan buatan, analisis data produksi, serta pengelolaan alur kerja dalam satu platform terpadu. Sistem tersebut juga dikembangkan menggunakan platform Mendix milik Siemens guna mendukung proses digitalisasi yang lebih menyeluruh.
Senior Vice President Siemens Digital Industries Software Asia Pacific, Jornt Moerland, mengungkapkan bahwa Siemens bersama Jack Technology tengah menjajaki pengembangan lini produksi berbasis digital twin serta proyek percontohan pabrik pintar yang ditujukan untuk industri garmen.
Di sisi lain, prospek industri tekstil Indonesia masih menunjukkan tren yang positif dalam jangka panjang. Berdasarkan laporan IMARC Group, nilai pasar manufaktur tekstil Indonesia diperkirakan meningkat dari sekitar 42 miliar dolar AS pada 2025 menjadi 64,2 miliar dolar AS pada 2034.
Moli menilai pertumbuhan tersebut harus diimbangi dengan peningkatan efisiensi serta kemampuan beradaptasi terhadap dinamika pasar yang semakin cepat. Menurutnya, perusahaan tekstil dan garmen tidak hanya dituntut meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu merespons perubahan kebutuhan pelanggan dengan lebih cepat dan tepat.
“Sejalan dengan perkembangan industri, perusahaan tekstil dan garmen tidak hanya dituntut untuk meningkatkan kapasitas produksi, namun juga mampu beradaptasi lebih cepat terhadap perubahan kebutuhan pelanggan dan dinamika pasar. Karena itu, penerapan teknologi digital dan otomatisasi kelak menentukan proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan operasional yang lebih optimal,” ujarnya.
Seiring meningkatnya kebutuhan terhadap efisiensi, ketepatan produksi, dan kecepatan merespons permintaan pasar, penggunaan AI, otomatisasi, serta sistem produksi berbasis data diperkirakan akan semakin luas di industri tekstil dan garmen. Transformasi digital pun menjadi salah satu langkah strategis yang dapat membantu industri nasional mempertahankan daya saing di tengah persaingan global yang terus berkembang.