Ketidakstabilan pasokan listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir memunculkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menjadi salah satu sektor yang paling terdampak karena aktivitas produksinya sangat bergantung pada ketersediaan energi yang stabil dan berkelanjutan.
Pengamat energi dari Universitas Indonesia (UI), Ali Ahmudi Achyak, menilai pemadaman listrik yang terjadi belakangan ini tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Menurutnya, gangguan pasokan energi dapat memberikan dampak langsung terhadap operasional industri dan berpotensi menghambat pertumbuhan sektor manufaktur.
“Pemadaman listrik yang belakangan terjadi di beberapa wilayah perlu menjadi perhatian serius, karena berdampak langsung terhadap dunia usaha, khususnya sektor industri yang sangat bergantung pada pasokan energi yang harus stabil,” ujar Ali, Rabu (24/6/2026).
Bagi industri tekstil, gangguan listrik tidak hanya menyebabkan berhentinya proses produksi untuk sementara waktu. Pemadaman yang terjadi secara mendadak juga dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan, terutama akibat penggunaan sumber energi cadangan, kerusakan bahan baku yang sedang diproses, hingga terganggunya efisiensi produksi.
Selain itu, ketidakstabilan pasokan listrik berpotensi mengacaukan jadwal pengiriman produk kepada pelanggan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kepercayaan konsumen dan menurunkan daya saing perusahaan, terutama di tengah persaingan pasar global yang semakin ketat.
“Bagi industri tekstil, gangguan listrik tak hanya menghentikan proses produksi, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya operasional, mengganggu jadwal pengiriman, dan menurunkan daya saing perusahaan,” kata Ali.
Ia juga mengingatkan bahwa dampak gangguan listrik yang terjadi secara berulang dapat menimbulkan efek berantai yang lebih luas terhadap perekonomian. Ketidakpastian pasokan energi berpotensi menurunkan kepercayaan investor dan membuat pelaku usaha menunda rencana ekspansi bisnis.
Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang, penurunan investasi dapat berdampak pada berkurangnya kapasitas produksi dan melambatnya penyerapan tenaga kerja. Situasi ini dinilai dapat menekan pertumbuhan industri nasional yang saat ini tengah berupaya meningkatkan daya saing di pasar internasional.
“Jika kondisi ini terus berulang, bukan tidak mungkin akan terjadi pengurangan permintaan pasar, penurunan produksi, penundaan investasi, hingga tekanan terhadap penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.
Menurut Ali, dunia usaha saat ini tidak hanya membutuhkan ketersediaan listrik dalam jumlah yang cukup, tetapi juga kepastian bahwa pasokan energi dapat diandalkan setiap saat. Oleh karena itu, pemerintah bersama penyelenggara sistem kelistrikan nasional perlu memastikan keandalan jaringan, terutama di kawasan-kawasan industri yang menjadi pusat aktivitas manufaktur.
Ia menegaskan bahwa jaminan pasokan energi yang stabil merupakan faktor penting dalam menjaga keberlangsungan produksi, meningkatkan kepercayaan investor, serta mendukung pertumbuhan industri nasional secara berkelanjutan.
“Yang paling dibutuhkan dunia usaha bukan hanya listrik yang tersedia, tetapi juga jaminan bahwa pasokan energi dapat diandalkan untuk mendukung kegiatan produksi secara berkelanjutan,” pungkas Ali.