Industri tekstil masih menjadi salah satu sektor strategis yang memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Sebagai industri yang memiliki rantai pasok panjang, mulai dari bahan baku serat (fiber), kain (fabric), hingga produk jadi (garment), sektor ini membutuhkan analisis yang mampu menjelaskan hubungan antar kategori secara menyeluruh guna mendukung pengambilan kebijakan yang lebih tepat.
Hal tersebut disampaikan Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Devi Munandar, dalam Pertemuan Pekanan Internal yang digelar secara daring pada Rabu (24/6). Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan hasil penelitian berjudul Pemodelan Interaksi Dinamis dan Pengaruh Signifikan Antar Kategori Ekspor Tekstil Indonesia Menggunakan Analisis Principal Component dan Vector Autoregressive Integrated.
Menurut Devi, setiap kategori ekspor tekstil memiliki karakteristik yang berbeda, namun tetap saling terhubung dalam rantai industri. Oleh karena itu, diperlukan metode analisis yang tidak hanya mampu menyederhanakan data yang kompleks, tetapi juga dapat menggambarkan hubungan dinamis antar kategori secara lebih jelas.
Penelitian tersebut memanfaatkan data ekspor tekstil Indonesia periode Januari 2014 hingga Mei 2022 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data mencakup 14 variabel produk tekstil yang dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama, yaitu fiber, fabric, dan garment.
Untuk mengatasi kompleksitas data, tim peneliti menerapkan metode Principal Component Analysis (PCA) yang berfungsi mereduksi dimensi data tanpa menghilangkan informasi penting. Hasil reduksi kemudian diintegrasikan dengan model Vector Autoregressive Integrated (VARI) guna menganalisis hubungan dan pengaruh antar kategori ekspor tekstil.
Melalui pendekatan tersebut, sejumlah variabel ekspor tekstil berhasil disederhanakan menjadi tiga komponen utama yang mewakili kategori fiber, fabric, dan garment. Meskipun data menjadi lebih ringkas, model tetap mampu mempertahankan informasi utama sekaligus menangkap pola interaksi jangka pendek yang terjadi di antara ketiga kategori tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara ekspor serat stapel buatan (artificial staple fiber) dan pakaian rajut jadi (clothing with knitted). Temuan ini mengindikasikan bahwa ketersediaan bahan baku pada sektor fiber memiliki peran penting dalam mendukung kinerja ekspor sektor garment.
Keterkaitan tersebut menunjukkan kuatnya hubungan antara sektor hulu dan hilir dalam industri tekstil nasional. Dengan demikian, penguatan integrasi rantai pasok dari bahan baku hingga produk jadi dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan daya saing industri tekstil Indonesia di pasar global.
Selain mengidentifikasi hubungan antar kategori ekspor, model yang dikembangkan juga memiliki kemampuan untuk mendukung peramalan jangka pendek melalui analisis Impulse Response Function (IRF) dan Forecast Error Variance Decomposition (FEVD). Kemampuan tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai sistem peringatan dini terhadap kemungkinan penurunan kinerja ekspor tekstil sehingga pelaku industri dan pemerintah dapat mengambil langkah antisipatif lebih cepat.
Berdasarkan hasil penelitian, BRIN merekomendasikan agar pengembangan industri difokuskan pada kategori tekstil yang memiliki pengaruh besar terhadap kategori lainnya. Selain itu, integrasi rantai pasok antara sektor fiber, fabric, dan garment perlu terus diperkuat guna menciptakan industri yang lebih efisien dan berkelanjutan. Hasil peramalan yang dihasilkan model juga dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengambilan keputusan yang lebih adaptif dalam menjaga stabilitas ekspor nasional.
Melalui penelitian ini, PRSDI BRIN menunjukkan pentingnya pemanfaatan sains data dalam menganalisis sektor industri strategis. Integrasi metode reduksi dimensi dan pemodelan deret waktu multivariat diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah dalam penyusunan kebijakan berbasis data untuk memperkuat pengembangan industri tekstil Indonesia di masa mendatang.
Kegiatan pertemuan pekanan tersebut turut menghadirkan sejumlah peneliti dari Kelompok Riset Information Retrieval yang memaparkan perkembangan berbagai riset yang tengah dikembangkan sebagai bagian dari upaya mendorong inovasi dan kemajuan sektor industri nasional.