Antusiasme pelaku industri tekstil dan produk tekstil (TPT) terhadap The Textile Industry Badminton Tournament (TTIBT) 2026 meningkat signifikan. Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, turnamen ini bahkan mencatat jumlah pendaftar yang melampaui kuota, sehingga sejumlah perusahaan terpaksa tidak dapat ikut berpartisipasi. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa industri tekstil nasional masih memiliki semangat kolaborasi dan optimisme untuk terus berkembang.
Ajang yang diinisiasi oleh Ikatan Alumni ITT/STTT/Politeknik STTT Bandung itu kini berkembang menjadi lebih dari sekadar kompetisi olahraga. TTIBT telah menjadi wadah mempererat silaturahmi, memperluas jaringan bisnis, sekaligus ruang bertukar gagasan bagi para pelaku industri tekstil dari berbagai wilayah di Indonesia.
Ketua Pelaksana TTIBT 2026, Okta Sakti Eka Kusumawan, mengungkapkan bahwa panitia semula hanya menyediakan kuota bagi 32 perusahaan. Namun tingginya minat membuat sekitar tujuh perusahaan tidak dapat diterima karena kapasitas telah penuh.
Menurut Okta, hampir seluruh perusahaan yang mengikuti turnamen perdana pada 2025 kembali mengirimkan timnya tahun ini. Hal tersebut menjadi indikator bahwa penyelenggaraan TTIBT mendapat apresiasi positif dari peserta sehingga mereka ingin kembali berpartisipasi.
Jangkauan peserta juga semakin luas. Jika pada tahun sebelumnya perusahaan peserta hanya berasal dari Solo dan Pekalongan, kini turnamen diikuti perusahaan dari Serang, Tangerang, Subang, Purwakarta, dan sejumlah daerah lainnya. Sebanyak 32 perusahaan masing-masing mengirimkan delapan atlet dan dua ofisial sehingga total peserta mencapai sekitar 320 orang. Dengan kehadiran pendukung dan tamu undangan, jumlah pengunjung pada hari pertama diperkirakan menembus 700 orang.
Ketua Ikatan Alumni ITT/STTT, Riady Madyaditana, menilai keberhasilan penyelenggaraan TTIBT tidak lepas dari peran alumni yang tersebar di berbagai perusahaan tekstil. Mereka aktif memperkenalkan kegiatan tersebut kepada perusahaan tempat mereka bekerja sehingga partisipasi terus meningkat dan turnamen berkembang menjadi ajang berskala nasional.
Ia mengatakan, nilai utama TTIBT justru terletak pada interaksi yang terjalin di luar lapangan pertandingan. Para pimpinan perusahaan memanfaatkan momentum tersebut untuk berdiskusi mengenai kondisi industri, berbagi pengalaman, hingga menjajaki peluang kerja sama baru.
Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi sektor TPT, Riady menilai kegiatan seperti TTIBT mampu membangun optimisme sekaligus mengurangi tekanan psikologis yang dirasakan pelaku industri. Semangat kebersamaan dinilai penting agar perusahaan tetap mampu bertahan dan berkembang.
Melihat tingginya animo peserta, panitia berencana menambah kapasitas menjadi 48 perusahaan pada penyelenggaraan tahun depan agar lebih banyak pelaku industri dapat ikut ambil bagian.
Keberhasilan TTIBT 2026 juga didukung sekitar 30 sponsor dengan Anindia sebagai sponsor utama. Dukungan tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan penyelenggaraan turnamen.
Riady berharap tingginya partisipasi ratusan pelaku industri dapat menjadi pesan bagi pemerintah maupun sektor perbankan bahwa industri tekstil nasional masih memiliki prospek yang baik. Selama ini, industri tekstil kerap dipersepsikan sebagai sektor yang mengalami penurunan sehingga akses pembiayaan menjadi lebih sulit.
Menurutnya, anggapan tersebut perlu diubah karena industri tekstil masih bergerak aktif, memiliki daya saing, dan tetap menjadi salah satu sektor padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Karena itu, ia meminta pemerintah terus memberikan perhatian dan dukungan terhadap keberlangsungan industri TPT nasional.
Pada TTIBT 2026, PT Primatexco berhasil keluar sebagai juara. Posisi runner-up diraih PT Trisula Textile Industries Tbk (Trisulatex), sementara peringkat ketiga ditempati PT Sheba Indah. Adapun penghargaan suporter terbaik diberikan kepada PT Kahatex.