Penerapan Digital Product Passport (DPP) dipandang sebagai peluang baru bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia untuk memperkuat daya saing di pasar internasional, khususnya Inggris dan Uni Eropa. Untuk mendukung kesiapan pelaku usaha, Kementerian Perdagangan bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di London dan perusahaan fesyen Nobody’s Child menggelar webinar bertajuk Style Meets Standard: Understanding the Digital Product Passport in the Fashion Industry for the UK Market pada Rabu (22/7).
Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman mengenai Digital Product Passport, yaitu sistem digital yang merekam asal-usul, proses produksi, hingga perjalanan suatu produk. Inggris dan Uni Eropa kini tengah mendorong penerapan sistem tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi dan keterlacakan rantai pasok.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen meningkatkan daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar global. Menurutnya, Digital Product Passport tidak lagi sekadar menjadi persyaratan administratif, tetapi telah berkembang menjadi instrumen penting dalam membangun kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok internasional.
Ia menyebut DPP akan menjadi standar baru yang mengedepankan transparansi, ketertelusuran, dan keberlanjutan produk, terutama untuk memasuki pasar Inggris dan Uni Eropa yang semakin menuntut praktik bisnis berkelanjutan.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kementerian Perdagangan, Deden Muhammad Fajar Shidiq, menjelaskan bahwa sektor manufaktur masih menjadi penyumbang utama ekspor nasional. Pada periode Januari hingga Mei 2026, ekspor manufaktur Indonesia tumbuh 5,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Deden, struktur ekspor Indonesia kini juga mulai bergeser dari komoditas mentah menuju produk bernilai tambah, termasuk tekstil, garmen, dan produk fesyen. Oleh karena itu, daya saing produk tidak lagi hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga oleh aspek keberlanjutan, transparansi, dan keterlacakan rantai pasok yang dapat diperkuat melalui implementasi Digital Product Passport.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia selama Januari–Mei 2026 mencapai USD 4,79 miliar dengan surplus sekitar USD 962 juta. Inggris menjadi salah satu pasar yang menunjukkan prospek positif dengan pertumbuhan ekspor sebesar 2,43 persen serta surplus perdagangan sekitar USD 69 juta pada periode yang sama.
Indonesia juga dinilai memiliki modal kuat dalam menghadapi standar perdagangan global melalui lebih dari 30 perjanjian dagang yang mencakup sekitar 70 persen tujuan ekspor nasional. Selain itu, perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang telah memasuki tahap akhir diharapkan semakin memperluas akses produk Indonesia ke pasar Eropa.
Webinar tersebut dibuka oleh Duta Besar RI untuk Inggris, Irlandia, dan Organisasi Maritim Internasional, Desra Percaya. Ia menilai penerapan Digital Product Passport menjadi momentum penting bagi industri tekstil dan fesyen Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar global, mengingat Uni Eropa akan mulai menerapkan sistem tersebut secara bertahap mulai 2027 dengan sektor tekstil dan fesyen sebagai prioritas.
Dalam sesi diskusi, desainer Chloe Jones mengungkapkan bahwa konsumen Inggris kini semakin selektif dalam memilih produk. Selain kualitas, mereka juga mempertimbangkan aspek keberlanjutan, etika bisnis, serta transparansi informasi produk sebelum melakukan pembelian.
Pendiri Nobody’s Child, Andrew Xeni, menjelaskan bahwa Digital Product Passport merupakan evolusi dari standar keberlanjutan yang memungkinkan konsumen mengakses informasi lengkap mengenai suatu produk melalui kode QR, mulai dari asal bahan baku, proses produksi, hingga dampak lingkungan yang dihasilkan.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, menyampaikan bahwa industri tekstil dan garmen menyumbang sekitar 4,37 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2025. Ia optimistis daya saing sektor tersebut akan semakin meningkat seiring implementasi berbagai perjanjian perdagangan, termasuk IEU-CEPA.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, nilai perdagangan Indonesia dengan Inggris mencapai USD 1,08 miliar dengan surplus sebesar USD 231,20 juta. Sementara sepanjang 2025, total perdagangan kedua negara tercatat sebesar USD 1,60 miliar, dengan Indonesia membukukan surplus perdagangan mencapai USD 529,80 juta.