Print

Kinerja industri hulu tekstil Indonesia masih menghadapi tekanan sepanjang semester I 2026. Penurunan permintaan dari sektor hilir menyebabkan produksi industri serat dan benang filamen mengalami kontraksi, sementara pasar domestik masih dibayangi tingginya arus produk impor yang terus menekan pangsa pasar industri dalam negeri.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, mengungkapkan produksi industri hulu tekstil pada semester I 2026 turun sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh melemahnya permintaan dari industri hilir, meski kinerja ekspor masih mampu bertahan pada level yang relatif sama dengan tahun lalu.

Menurut Redma, kondisi pasar domestik belum menunjukkan perbaikan. Tren peningkatan impor mulai dari benang, kain hingga produk garmen masih terus berlangsung dan secara bertahap mengurangi penguasaan pasar oleh produk tekstil nasional.

Ia menilai derasnya produk impor menjadi tantangan utama bagi industri tekstil dalam negeri. Selama kondisi tersebut belum berubah, ruang pertumbuhan di pasar domestik akan tetap terbatas meskipun kapasitas produksi nasional masih memadai.

Dari sisi bahan baku, APSyFI menyebut harga masih mengikuti pergerakan pasar internasional dan cenderung mengalami sedikit penurunan. Secara umum pasokan bahan baku masih terkendali, meskipun terdapat sedikit hambatan pada ketersediaan monoethylene glycol (MEG), salah satu bahan baku penting dalam industri serat sintetis.

Memasuki paruh kedua tahun ini, pelaku industri belum melihat adanya perbaikan signifikan terhadap prospek usaha. Harapan utama kini bertumpu pada pemulihan pasar ekspor yang mulai menunjukkan tren positif di sejumlah negara tujuan.

Meski peluang ekspor mulai membaik, Redma menilai pelaku usaha tetap harus bekerja lebih keras untuk memperoleh pesanan karena persaingan di pasar internasional semakin ketat. Sementara itu, pasar domestik yang sebenarnya masih memiliki potensi besar justru menghadapi tantangan lebih berat akibat tingginya volume impor.

Menurutnya, kebijakan pemerintah menjadi faktor yang paling menentukan bagi keberlangsungan industri tekstil nasional. Pengendalian impor serta upaya memperkuat daya saing produk lokal dinilai menjadi langkah penting agar industri dapat kembali tumbuh secara berkelanjutan.

APSyFI berharap tren pemulihan permintaan ekspor dapat berlanjut hingga akhir 2026 sehingga mampu menopang kinerja industri di tengah lemahnya pasar domestik. Namun, pemulihan industri tekstil secara menyeluruh dinilai tidak hanya bergantung pada membaiknya pasar global, melainkan juga pada kebijakan pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif serta memberikan perlindungan yang seimbang bagi industri nasional.