Print

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi mulai mengubah wajah industri tekstil nasional. Di tengah perubahan tersebut, kemampuan tenaga kerja untuk beradaptasi dengan teknologi dinilai menjadi faktor yang lebih menentukan dibandingkan kekhawatiran terhadap hilangnya lapangan pekerjaan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Farhan Aqil Syauqi mengatakan, penerapan otomatisasi dan AI di sektor tekstil tidak serta-merta akan menghapus kebutuhan terhadap tenaga kerja. Sebaliknya, perkembangan teknologi akan menggeser kebutuhan industri menuju sumber daya manusia dengan keterampilan yang lebih maju.

Menurutnya, sejumlah pabrik tekstil di Indonesia mulai mengadopsi teknologi AI. Bahkan, beberapa perusahaan telah memiliki peta jalan pemanfaatan teknologi hingga 2030. Penggunaan robotik juga mulai diterapkan dalam sejumlah proses produksi, salah satunya pengemasan.

“Setiap ada tahapan revolusi industri, pasti akan ada perubahan yang signifikan. Namun, pasti akan ada lapangan kerja baru yang lebih advance,” ujar Aqil, Kamis (21/8/2026).

Karena itu, tenaga kerja, termasuk lulusan perguruan tinggi, dituntut tidak berhenti pada kemampuan akademik. Mereka perlu memiliki kemampuan untuk mengikuti perkembangan teknologi dan memahami kebutuhan industri yang terus berubah.

Aqil menilai sektor tekstil sebenarnya telah memiliki dukungan pendidikan vokasi melalui Kementerian Perindustrian. Namun, tantangan yang perlu segera dibenahi adalah efektivitas transfer teknologi dari dunia industri ke institusi pendidikan, terutama dalam hal pengoperasian mesin-mesin berteknologi tinggi.

Menurut APSyFI, persoalan tersebut berkaitan dengan belum berkembangnya industri mesin tekstil dalam negeri yang mampu melakukan transfer pengetahuan secara menyeluruh kepada lembaga pendidikan. Kondisi itu membuat keterhubungan antara kebutuhan teknologi di industri dan kompetensi yang diajarkan di institusi pendidikan masih perlu diperkuat.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, APSyFI mendorong pemerintah menyusun peta jalan pengembangan industri permesinan nasional. Penguatan industri mesin dinilai penting agar Indonesia tidak hanya mampu meningkatkan daya saing manufaktur, tetapi juga dapat mengadopsi dan mengembangkan teknologi dari luar negeri.

Pengembangan produk dan teknologi dalam skala laboratorium juga dinilai idealnya dimulai dari lingkungan pendidikan sebelum diterapkan dalam skala industri. Dengan demikian, institusi pendidikan dapat menjadi bagian dari ekosistem inovasi sekaligus menyiapkan lulusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Di tengah disrupsi teknologi, kemampuan beradaptasi pun disebut menjadi benteng utama bagi pekerja. Perubahan teknologi tidak hanya menciptakan risiko, tetapi juga membuka jenis pekerjaan baru yang membutuhkan keterampilan berbeda.

“Yang akan gugur adalah orang yang nggak mau beradaptasi terhadap teknologi,” pungkas Aqil.

Tantangan adaptasi tersebut menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan kondisi pengangguran terdidik di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah sarjana yang menganggur meningkat dari sekitar 628.800 orang pada Agustus 2023 menjadi 1,03 juta orang pada Mei 2026.

Pada periode yang sama, porsi lulusan Diploma IV/S1/S2/S3 terhadap total pengangguran nasional juga meningkat dari 12,12% pada Agustus 2023 menjadi 14,31% pada Mei 2026.

Data tersebut menunjukkan bahwa kepemilikan ijazah perguruan tinggi tidak lagi otomatis menjamin seseorang memperoleh pekerjaan yang layak. Di tengah transformasi industri, lulusan pendidikan tinggi perlu memiliki kompetensi yang lebih relevan dengan perkembangan teknologi, termasuk kemampuan menggunakan dan beradaptasi dengan AI serta sistem otomatisasi.

Bagi industri tekstil, perubahan tersebut menjadi peluang untuk membangun tenaga kerja dengan keterampilan yang lebih tinggi. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan menjadi penting agar perkembangan teknologi tidak hanya meningkatkan produktivitas industri, tetapi juga menciptakan sumber daya manusia yang mampu mengisi kebutuhan pekerjaan baru di era industri berbasis AI.