Print

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendorong kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Keuangan, untuk mengambil peran lebih aktif dalam meningkatkan daya saing industri domestik sekaligus memperluas penetrasi produk Indonesia ke pasar ekspor global.

Hal tersebut disampaikan Purbaya dalam diskusi bertajuk Free Trade Agreements on Indonesia Industrialization and Economic Performance yang digelar di Aula Mezzanine, Kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (20/8). Dalam forum tersebut, Purbaya menyatakan akan mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga mencapai target 6–8 persen.

Purbaya menilai pemanfaatan Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih terukur agar memberikan manfaat maksimal bagi perekonomian Indonesia. Menurutnya, kebijakan perdagangan harus didukung analisis data yang presisi serta pemodelan ekonometrika modern untuk mengetahui dampaknya terhadap industri nasional.

Melalui pendekatan tersebut, pemerintah akan melakukan pemetaan secara lebih komprehensif terhadap sektor-sektor industri yang terdampak perjanjian perdagangan. Hasil pemetaan nantinya dapat menjadi dasar dalam menentukan perlindungan maupun insentif yang lebih tepat sasaran bagi industri dalam negeri.

Langkah tersebut juga diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi berbagai perundingan perdagangan internasional. Dengan memahami sektor yang memiliki potensi maupun kerentanan, pemerintah dapat menyusun strategi yang lebih efektif dalam membuka akses pasar sekaligus menjaga kepentingan industri nasional.

Selain optimalisasi FTA, Purbaya menilai pengembangan energi bersih menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Pemerintah berencana mempercepat investasi di sektor energi terbarukan, termasuk mengoptimalkan potensi panas bumi melalui perusahaan BUMN seperti PT Geo Dipa Energi.

Energi hijau tersebut nantinya dapat diarahkan untuk mendukung kawasan industri, termasuk industri tekstil dan alas kaki. Penggunaan energi terbarukan dinilai dapat menjadi nilai tambah bagi produk Indonesia mengingat pasar global semakin memperhatikan aspek keberlanjutan dalam rantai pasok.

“Ada free trade dengan Eropa, katanya dengan Eropa itu ada special treatment untuk produk-produk yang memakai energi baru terbarukan, termasuk geothermal. Kenapa enggak saya drill lebih banyak geothermal? Saya investasi di situ untuk memberi energi ke suatu pusat industri tekstil sehingga dia bisa ekspor ke Eropa dengan lebih kompetitif,” terang Purbaya.

Menurutnya, integrasi antara kebijakan perdagangan, energi bersih, manufaktur, dan pembiayaan dapat menciptakan ekosistem industri yang lebih kompetitif. Industri nasional tidak hanya didorong untuk bertahan menghadapi persaingan global, tetapi juga mampu memanfaatkan peluang dari meningkatnya permintaan terhadap produk yang memenuhi standar keberlanjutan.

Purbaya optimistis transformasi kebijakan fiskal yang lebih berorientasi pada pertumbuhan, penguatan manufaktur berbasis energi bersih, serta dukungan pembiayaan dapat membuat perekonomian Indonesia semakin tangguh dan inklusif.

“September ke depan kita akan ubah approach Kementerian Keuangan bagaimana menghidupkan perekonomian. Saya ingin menggunakan semua yang ada untuk memaksimalkan potensi ekonomi kita,” pungkasnya.