Print

Industri halal di Indonesia terus berkembang dan tidak lagi terbatas pada sektor makanan dan minuman. Konsep halal kini mulai merambah industri fashion, termasuk produk tekstil yang menjadi bahan utama dalam pembuatan berbagai kebutuhan sandang.

Perkembangan tersebut turut menjadi perhatian dalam Pekan Halal Indonesia 2026 yang digelar di Hall A & Cendrawasih, JICC Senayan, Jakarta, pada 28–30 Agustus 2026. Ajang yang menghadirkan beragam produk dan edukasi industri halal tersebut menargetkan 10.000 pengunjung dengan tiket masuk sebesar Rp20.000.

Salah satu pelaku usaha yang memperkenalkan konsep tekstil halal dalam ajang tersebut adalah Adwil Yusuf, pemilik Deatextile. Ia membawa konsep produksi tekstil secara terintegrasi, mulai dari bahan baku, benang, kain, hingga menjadi produk fashion.

“Produk halal ini bukan main-main, pasti harus memiliki sertifikasi halal. Kali ini kami membawa produk halal yang berbeda dengan produk halal lainnya, yaitu tekstil. Ini menjadi uniqueness kami, mulai dari bulu, kemudian menjadi benang, hingga menjadi produk fashion,” ujar Adwil saat konferensi pers Pekan Halal Indonesia di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, Rabu (26/8/2026).

Menurut Adwil, pemahaman mengenai tekstil halal tidak cukup hanya dengan melihat keberadaan label halal pada produk. Seluruh proses produksi juga harus memenuhi ketentuan yang berlaku, termasuk bahan dan sarana yang digunakan.

“Bukan hanya label halal, tetapi prosesnya juga harus halal. Air yang digunakan dalam proses produksi harus bersih. Setelah proses pencucian, bahan-bahan yang digunakan juga tidak boleh berbahaya, harus halal, bersih, baik, dan tidak mengganggu lingkungan hidup,” jelasnya.

Penelusuran juga mencakup bahan yang berasal dari hewan dan digunakan dalam proses produksi, termasuk dalam tahapan pewarnaan. Bahan tersebut harus dipastikan memenuhi standar kehalalan yang ditetapkan.

Hal serupa berlaku terhadap penggunaan tinta dan berbagai zat kimia lainnya. Menurut Adwil, seluruh bahan perlu ditelusuri secara detail sehingga proses sertifikasi tekstil halal membutuhkan pemeriksaan yang cukup panjang dan dapat berdampak terhadap biaya produksi.

Ia memastikan bahan hewani yang digunakan dalam produknya tidak berasal dari sumber yang dilarang dalam ketentuan Islam, termasuk babi dan anjing, maupun hewan yang proses penyembelihannya tidak sesuai dengan syariat.

Karakteristik bahan dasar tekstil juga turut memengaruhi proses penelusuran dalam sertifikasi halal. Setiap produk memiliki komposisi dan standar produksi yang berbeda sehingga seluruh bahan yang digunakan perlu diketahui secara jelas.

“Setiap produksi itu punya standarnya. Untuk bisa dikatakan produk itu halal, kita harus menelusur kembali bahan-bahan yang digunakan. Ada alatnya untuk melihat berapa nilai atau komposisi masing-masing bahan yang digunakan dalam produksi kain tersebut,” kata Adwil.

Ia menjelaskan, polyester merupakan serat sintetis yang memiliki karakteristik berbeda dengan bahan berbasis alam. Sementara itu, katun, rayon, viskos, dan sejumlah bahan natural fabric berasal dari sumber yang berbeda.

“Kalau bahan dasarnya polyester, itu bukan menggunakan zat alam karena berbahan dasar plastik. Sementara kalau berbahan dasar tumbuhan, seperti katun, rayon, viskos, dan kain-kain yang berbahan dasar natural fabric, saya bisa katakan menggunakan bahan yang sangat alami,” ujarnya.

Meski demikian, jenis serat tidak dapat menjadi satu-satunya acuan untuk menentukan status halal sebuah produk tekstil. Komposisi, bahan tambahan, hingga keseluruhan tahapan produksi tetap harus ditelusuri sesuai dengan standar sertifikasi yang berlaku.

Kehadiran tekstil halal dalam Pekan Halal Indonesia 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi fashion halal sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa status halal sebuah produk tidak berhenti pada label. Ada rangkaian proses, bahan, serta standar produksi yang harus dipastikan sejak awal hingga produk siap digunakan.

Pekan Halal Indonesia 2026 yang berlangsung selama tiga hari tersebut menghadirkan berbagai pengalaman dan edukasi melalui Halal Kulture, Faedah Talkz, Creative Space, Community Space, serta talkshow. Dari sektor industri, acara ini menampilkan berbagai kategori, mulai dari modest fashion melalui zona GlamLocal, kuliner halal, kecantikan halal, keuangan dan properti syariah, hingga halal travel.