Print

Kain songket tidak hanya menjadi bagian dari busana tradisional Palembang, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk fesyen yang mengikuti kebutuhan masyarakat modern. Salah satunya diwujudkan melalui peci songket yang memadukan kekayaan motif lokal dengan kebutuhan fesyen muslim.

Pemilik Alza Peci Palembang, Syawaluddin, mengatakan ide membuat peci berbahan songket muncul pada 2020. Saat itu, ia melihat peci hitam sudah banyak beredar sehingga diperlukan inovasi untuk menghadirkan produk dengan karakter yang berbeda.

“Awalnya terpikir membuat peci, tetapi peci hitam sudah banyak. Kemudian saya melihat kain songket dan mencoba menggunakannya sebagai bahan peci,” ujarnya dalam program Teras UMKM, Jumat, 4 September 2026.

Syawaluddin mengembangkan produk tersebut secara mandiri. Ia mempelajari teknik pembuatan peci melalui berbagai sumber informasi, termasuk media sosial, sekaligus mencoba berbagai desain untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Perjalanan awal tersebut tidak langsung menghasilkan produk yang sempurna. Sekitar 50 peci sempat mengalami kegagalan sebelum Syawaluddin menemukan pola dan ukuran yang dinilai sesuai.

“Proses awal tidak langsung menghasilkan produk sempurna. Di awal produksi sempat mengalami kegagalan sebelum akhirnya menemukan peci yang sesuai diharapkan konsumen,” jelasnya.

Setelah mendapatkan desain yang tepat, ia kemudian mengembangkan ukuran peci berdasarkan lingkar kepala pengguna. Penyesuaian ukuran tersebut dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan sehingga peci dapat digunakan oleh berbagai kalangan.

Tidak hanya mengandalkan tampilan songket sebagai daya tarik utama, Alza Peci juga memperhatikan aspek kualitas dan kenyamanan. Bagian dalam peci menggunakan material yang tidak mudah patah serta memiliki ketahanan terhadap air.

Peci tersebut juga dilengkapi lubang udara untuk membantu sirkulasi sehingga pengguna tetap merasa nyaman ketika mengenakannya dalam berbagai aktivitas.

Dari sisi pilihan produk, Alza Peci menawarkan peci dengan beberapa jenis bahan songket. Peci menggunakan songket mesin dipasarkan dengan harga sekitar Rp50 ribu, sementara produk yang menggunakan songket asli hasil pengerjaan manual dibanderol sekitar Rp150 ribu.

Pemasaran yang dilakukan melalui media sosial dan platform perdagangan daring turut membantu memperluas jangkauan pasar. Produk Alza Peci kini tidak hanya dipasarkan di Palembang, tetapi juga telah menerima pesanan dari sejumlah wilayah lain.

“Kami sering menerima pesanan hingga luar Palembang. Bahkan produk dari Alza Peci Palembang sudah sampai ke Malaysia dan Singapura,” ujar Syawaluddin.

Syawaluddin berharap peci songket yang dikembangkan Alza Peci dapat menjadi salah satu medium untuk memperkenalkan kekayaan budaya Palembang kepada masyarakat yang lebih luas. Di saat yang sama, inovasi tersebut diharapkan mampu mendorong UMKM untuk terus mengembangkan produk kreatif yang mengangkat potensi budaya lokal dan memiliki nilai ekonomi.