Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi yang memanfaatkan limbah jaring ikan berbahan nilon sebagai material nanofiber untuk membantu mengatasi pencemaran limbah pewarna dari industri tekstil. Inovasi tersebut dinilai dapat menjadi solusi untuk dua persoalan lingkungan sekaligus, yakni penumpukan limbah plastik di laut dan pencemaran limbah cair tekstil.
Peneliti Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Muhamad Nasir bersama tim, mengolah limbah jaring nilon menjadi material nano fungsional melalui proses electrospinning. Material tersebut kemudian dikompositkan dengan nanopartikel Titanium Dioksida (TiO2) untuk meningkatkan kemampuan dalam mengolah limbah pewarna tekstil.
Nasir mengatakan jaring ikan berbahan nilon menjadi salah satu penyumbang fragmentasi mikroplastik di lautan. Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi Indonesia yang memiliki garis pantai lebih dari 81.000 kilometer dan menghasilkan limbah jaring ikan dalam jumlah besar setiap tahun.
Menurutnya, pemanfaatan kembali limbah jaring nilon melalui proses upcycling dapat menghasilkan material dengan nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan sekadar mengolahnya menjadi produk bernilai rendah.
“Alih-alih mengubah limbah ini menjadi produk bernilai rendah, kami mengolahnya kembali (upcycling) menjadi material nano fungsional berkinerja tinggi melalui proses electrospinning,” kata Nasir dalam Forum e-Asia Joint Research Program 15th Joint Review Meeting & Annual Board Meeting 2026, Selasa (8/9).
Dalam pengembangannya, limbah jaring nilon dikombinasikan dengan nanopartikel TiO2. Penambahan material tersebut tidak hanya membuat struktur serat menjadi lebih kuat, tetapi juga meningkatkan kemampuan nanofiber dalam menyerap air serta memperluas permukaan aktifnya.
Kemampuan material tersebut kemudian diuji untuk mendegradasi Methylene Blue (MB), salah satu jenis pewarna yang dapat ditemukan dalam limbah industri tekstil. Pengujian dilakukan dengan bantuan penyinaran sinar ultraviolet (UV).
Hasil pengujian menunjukkan bahwa nanofiber berbasis limbah jaring nilon dan TiO2 mampu mencapai efisiensi degradasi Methylene Blue sebesar 88,68 persen dalam waktu 60 menit pada kondisi pH netral atau pH 7.
Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan penggunaan nanopartikel TiO2 secara murni yang memiliki efisiensi degradasi sebesar 67,84 persen. Peningkatan kinerja tersebut berkaitan dengan struktur nanofiber yang membantu mencegah partikel TiO2 menggumpal.
Struktur tersebut membuat partikel TiO2 dapat memperoleh paparan cahaya secara lebih optimal. Ketika terkena sinar UV, material menghasilkan radikal bebas yang kemudian membantu memecah molekul pewarna menjadi senyawa yang lebih sederhana, seperti air dan karbon dioksida.
Nasir menilai inovasi tersebut menunjukkan bahwa limbah jaring nilon yang selama ini menjadi persoalan lingkungan dapat diubah menjadi material fungsional yang memiliki manfaat untuk pengolahan limbah industri.
“Dengan mengubah limbah jaring nilon menjadi nanofiber multifungsi, kami memberikan nilai tambah pada limbah laut sekaligus menciptakan produk berkelanjutan untuk mengatasi polusi limbah tekstil,” ujar Nasir.
Penelitian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara BRIN, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Andalas. Hasil penelitian juga telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Science: Advanced Materials and Devices pada 2025.