Print

Kenaikan harga minyak mentah dunia hingga menembus level US$100 per barel mulai menjadi perhatian bagi industri manufaktur Indonesia. Meski sebagian besar sektor manufaktur masih mengandalkan batu bara dan listrik sebagai sumber energi utama, lonjakan harga minyak tetap berpotensi meningkatkan biaya produksi melalui transportasi, logistik, hingga bahan baku berbasis petrokimia.

Berdasarkan data OilPrice pada Senin (14/9/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,38% atau 2,28 poin menjadi US$102,6 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent naik 2,47% ke level US$107,2 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pertemuan antara Iran dan negara-negara Arab Teluk yang semula dijadwalkan berlangsung pada Senin (14/9) di Oman ditunda setelah terjadi serangan terhadap jaringan pipa Saudi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan harga minyak pada kisaran US$100–US$110 per barel belum tentu langsung memberikan tekanan besar kepada seluruh sektor industri. Namun, sejumlah sektor diperkirakan lebih cepat merasakan dampaknya, terutama industri kimia, petrokimia, plastik, tekstil, makanan dan minuman, serta sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap aktivitas logistik.

Menurut Yusuf, kenaikan harga minyak dapat masuk ke struktur biaya industri melalui kenaikan harga solar, transportasi, nafta, resin plastik, hingga berbagai bahan baku turunan minyak bumi.

Persoalan akan semakin kompleks apabila kenaikan biaya produksi tidak dapat sepenuhnya diteruskan kepada konsumen. Daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat produsen memiliki ruang terbatas untuk menaikkan harga jual. Kondisi ini berpotensi menekan margin keuntungan dan membuat pelaku industri lebih berhati-hati dalam menjaga tingkat utilisasi pabrik maupun merealisasikan investasi baru.

Tekanan terhadap industri juga dapat meningkat apabila nilai tukar rupiah kembali melemah. Pasalnya, sebagian kebutuhan bahan baku dan input industri masih diperoleh melalui impor dengan pembayaran menggunakan dolar AS. Hingga Senin, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.610–Rp17.650 per dolar AS dan diproyeksikan bergerak pada rentang Rp17.500–Rp17.850 per dolar AS dalam sepekan ke depan.

Yusuf menilai pelemahan rupiah bersamaan dengan tingginya harga minyak dapat memperbesar beban biaya yang harus ditanggung industri.

Dari sisi inflasi, dampak kenaikan harga minyak diperkirakan tidak langsung sepenuhnya tercermin karena pemerintah masih memiliki instrumen subsidi bahan bakar minyak serta kebijakan harga energi. Namun, tekanan tetap berpotensi muncul melalui kenaikan biaya logistik, BBM nonsubsidi, plastik, pupuk, dan berbagai barang industri.

Apabila harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, tekanan inflasi dapat kembali meningkat. Kondisi tersebut juga dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga sehingga biaya pembiayaan industri berpotensi tetap tinggi dan ruang ekspansi menjadi lebih terbatas.

Indonesia juga menghadapi tantangan dari sisi perdagangan energi karena masih menjadi pengimpor bersih minyak dan LPG. Ketika harga minyak dunia meningkat, nilai impor energi Indonesia ikut terdorong naik. Di sisi lain, Indonesia memiliki sejumlah komoditas ekspor seperti batu bara, minyak sawit mentah atau CPO, dan nikel yang dapat menjadi penyangga.

Meski demikian, peningkatan penerimaan dari ekspor komoditas belum tentu mampu sepenuhnya menutup kenaikan tagihan impor energi apabila harga minyak berada pada level tinggi dalam waktu lama.

Jika harga minyak di kisaran US$100–US$110 per barel hanya bertahan selama beberapa pekan, industri dinilai masih memiliki ruang untuk menyerap kenaikan biaya. Namun, apabila kondisi tersebut berlanjut hingga 2027, dampaknya berpotensi meluas terhadap margin keuntungan, utilisasi pabrik, hingga keputusan investasi.

Tekanan yang lebih besar berpotensi dirasakan industri yang menggunakan bahan baku berbasis minyak bumi, termasuk industri serat dan benang filamen. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Aqil mengatakan sebagian besar bahan baku serat sintetis seperti polyester dan nylon berasal dari minyak bumi.

Sebagian pasokan bahan baku tersebut juga diperoleh dari kawasan Timur Tengah. Karena itu, kenaikan harga minyak mentah secara langsung berpotensi meningkatkan biaya pengadaan bahan baku bagi industri serat dan benang filamen.

Selain kenaikan harga, kondisi geopolitik juga dikhawatirkan mengganggu kelancaran rantai pasok. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pelaku industri mulai mencari sumber pasokan alternatif dari sejumlah negara.

APSyFI telah berkomunikasi dengan sejumlah pemasok dari Malaysia melalui Petronas, Amerika Serikat, hingga Rusia. Beberapa pemasok disebut telah menyatakan kesanggupan memenuhi kebutuhan industri, sementara pemasok lainnya masih menghadapi keterbatasan bahan baku.

Kenaikan biaya bahan baku tersebut diperkirakan akan bergerak secara bertahap sepanjang rantai industri tekstil. Tekanan harga diperkirakan terlebih dahulu dirasakan pada produk benang, kemudian kain, dan selanjutnya produk garmen.

Aqil memperkirakan kenaikan harga minyak lebih dari 10% dapat memberikan dampak terhadap biaya produksi industri serat dan benang filamen sekitar 13%–15%. Namun, produsen menghadapi tantangan untuk meneruskan seluruh kenaikan biaya tersebut kepada konsumen karena kondisi pasar masih menjadi pertimbangan utama.

Tekanan terhadap biaya produksi dan pasokan juga mulai terlihat pada sejumlah perusahaan. APSyFI telah menyampaikan kondisi dua perusahaan kepada Kementerian Perindustrian, salah satunya perusahaan di Tangerang yang terdampak fluktuasi harga dan saat ini tengah melakukan overhaul.

Keberlanjutan operasional perusahaan tidak hanya bergantung pada kesiapan fasilitas produksi, tetapi juga pada kepastian permintaan pasar dan ketersediaan bahan baku. Ketika permintaan tersedia, perusahaan memiliki alasan untuk kembali menjalankan fasilitas produksinya. Sebaliknya, pasar yang melemah dapat membuat perusahaan semakin sulit mempertahankan kegiatan produksi.

Saat ini, APSyFI memperkirakan utilisasi industri serat dan benang filamen berada pada kisaran 70%–75%. Sejumlah perusahaan juga mulai memasuki periode pemeliharaan fasilitas produksi menjelang akhir tahun.

Di tengah meningkatnya tekanan biaya, APSyFI mendorong pemerintah untuk memperkuat pasar domestik melalui berbagai instrumen perlindungan perdagangan, seperti bea masuk antidumping, safeguard, maupun pengaturan bea masuk umum.

Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga daya saing industri nasional menghadapi produk impor, khususnya dari China. Perjanjian perdagangan seperti ASEAN-China Free Trade Area dan Indonesia-China Free Trade Agreement turut membuat produk dalam negeri menghadapi persaingan harga yang semakin ketat.

Karena itu, kepastian pasar domestik menjadi salah satu faktor penting bagi industri tekstil untuk tetap mempertahankan produksi di tengah meningkatnya biaya bahan baku. Penguatan pasar dalam negeri juga dinilai perlu dilakukan secara antisipatif agar pemerintah dan pelaku industri tidak baru mengambil langkah ketika tekanan terhadap sektor manufaktur sudah semakin besar.

Dengan harga minyak dunia yang masih berada di atas US$100 per barel, industri manufaktur Indonesia kini menghadapi kombinasi risiko berupa kenaikan biaya bahan baku, logistik, pelemahan nilai tukar, hingga potensi meningkatnya tekanan inflasi. Jika berlangsung berkepanjangan, kondisi tersebut dapat menjadi tantangan serius bagi kemampuan industri dalam menjaga margin, mempertahankan utilisasi pabrik, dan melanjutkan ekspansi.