Print
Circular Fashion Partnership (CFP) Indonesia menggelar acara penutupan program di Wisma Habibie Ainun, Jakarta, Rabu (7/10/2026), menandai berakhirnya rangkaian kegiatan selama dua tahun dalam mendorong pengembangan ekosistem tekstil sirkular di Indonesia. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengevaluasi capaian program sekaligus membahas keberlanjutan kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam memperkuat pengelolaan dan daur ulang limbah tekstil.

Dalam forum tersebut, para peserta menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk menjawab berbagai tantangan dalam pengelolaan limbah tekstil. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan pihak yang terlibat dalam proses daur ulang dinilai diperlukan untuk membangun sistem pengelolaan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan.

Selama pelaksanaannya, CFP Indonesia berfokus pada peningkatan pengelolaan limbah tekstil pascaproduksi, penguatan keterlacakan material, serta pengembangan hubungan antara penghasil limbah dan pelaku daur ulang. Upaya tersebut ditujukan untuk mendorong pemanfaatan kembali material tekstil agar dapat mengurangi limbah sekaligus mendukung penerapan prinsip ekonomi sirkular di sektor fesyen dan tekstil.

Selain mengevaluasi pelaksanaan program, diskusi juga membahas arah kebijakan nasional terkait ekonomi sirkular di sektor tekstil. Koordinasi antarkementerian dan lembaga menjadi salah satu perhatian utama, terutama dalam menerjemahkan peta jalan nasional menjadi langkah implementasi yang dapat dijalankan secara konkret oleh berbagai pihak.

Pembahasan turut mencakup pengembangan kerangka Extended Producer Responsibility (EPR) untuk tekstil pascakonsumsi, termasuk pakaian bekas dan produk tekstil rumah tangga. Kerangka ini menjadi bagian dari upaya mendorong tanggung jawab yang lebih luas dalam pengelolaan produk setelah digunakan konsumen, sehingga limbah tekstil memiliki peluang lebih besar untuk dikumpulkan, dipilah, dan didaur ulang.

Dalam kesempatan yang sama, peserta membahas pengembangan Multi-Stakeholder Platform (MSP) sebagai wadah untuk memperkuat komunikasi dan kolaborasi di antara para pemangku kepentingan. Platform tersebut diharapkan dapat memperluas akses terhadap informasi, mempertemukan berbagai pihak yang memiliki kepentingan dalam rantai nilai tekstil, serta membuka peluang kemitraan lintas sektor.

Berakhirnya program CFP Indonesia selama dua tahun menjadi momentum untuk melanjutkan berbagai upaya yang telah dibangun dalam pengembangan ekosistem tekstil sirkular. Keberlanjutan kolaborasi, dukungan kebijakan, serta keterlibatan aktif berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat sistem pengelolaan dan daur ulang limbah tekstil di Indonesia, sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular secara lebih luas di sektor tersebut.