Print

Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan alasan Danantara berencana masuk ke bisnis tekstil, yakni untuk mendorong penciptaan lapangan kerja sekaligus memperkuat industri tekstil nasional. Danantara berencana membangun industri tekstil sendiri dan tetap membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta dalam pengembangannya.

Dony menyampaikan rencana tersebut di Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2026). Menurutnya, sektor tekstil memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja sehingga pengembangannya dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat perekonomian nasional.

"Kita sedang mengembangkan tadi tekstil kita akan masuk dan antara akan masuk sendiri. Akan mulai membangun industri tekstil kita," ujar Dony.

Selain melalui investasi langsung, Dony menilai penguatan industri tekstil dalam negeri membutuhkan dukungan pemerintah melalui deregulasi. Sejumlah kebijakan yang dinilai memengaruhi daya saing industri nasional akan dievaluasi agar pelaku usaha dalam negeri memiliki ruang yang lebih besar untuk berkembang.

Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian adalah aturan impor barang bekas dengan skema post border. Menurut Dony, pemerintah akan meninjau kembali kebijakan tersebut untuk menciptakan kondisi yang lebih mendukung bagi industri tekstil nasional.

"Import barang bekas yang kita lakukan dengan kebijakan post border misalkan dan lain sebagainya. Ini akan direview oleh pemerintah. Supaya apa? Supaya industri dalam negerinya menjadi lebih baik," jelasnya.

Dony menambahkan, pemerintah juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha swasta untuk menyampaikan masukan terkait regulasi yang diperlukan dalam memperkuat industri nasional. Masukan tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri dalam negeri.

Ia menilai, salah satu persoalan yang menyebabkan sejumlah industri nasional mengalami kemunduran adalah kebijakan impor yang terlalu terbuka. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi daya saing produk lokal ketika harus berhadapan dengan barang impor.

"Kita selama ini industri kita mati. Kita menyadari banyak industri kita mati karena tadi apa? Importnya terlalu dibebaskan. Akibatnya apa? Kita tidak kompetitif," ucap Dony.

Menurutnya, penguatan industri nasional menjadi bagian dari upaya pemerintah menjadikan sektor industri sebagai salah satu penopang utama perekonomian Indonesia pada masa mendatang. Karena itu, investasi, perbaikan regulasi, dan kolaborasi dengan sektor swasta dinilai perlu berjalan beriringan untuk mendorong pertumbuhan industri tekstil.

Sebelumnya, CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, juga telah mengungkapkan rencana pengembangan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil. Ia menjelaskan bahwa strategi Danantara tidak hanya mencakup pembangunan perusahaan tekstil baru, tetapi juga pengembangan perusahaan yang masih memiliki potensi untuk tumbuh.

Rosan menyebut, potensi penciptaan lapangan kerja menjadi salah satu pertimbangan utama dalam rencana investasi tersebut. Selain itu, Danantara akan memperhitungkan keuntungan investasi serta peluang peningkatan kapasitas perusahaan melalui pembaruan mesin dan teknologi.

"Ya memang untuk BUMN tekstil ini kita kembali lagi, karena kita sudah sepakat untuk membangun yang tidak hanya yang baru, tetapi kita juga akan melihat apabila ada beberapa perusahaan tekstil yang berpotensi untuk kita kembangkan, terutama dari segi mesinnya, dari segi teknologinya, kita terbuka," ujar Rosan di Istana, Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Dengan rencana tersebut, Danantara membuka dua jalur pengembangan industri tekstil, yakni membangun perusahaan baru dan memperkuat perusahaan yang telah beroperasi. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri tekstil nasional, memperluas kesempatan kerja, serta mendukung penguatan sektor manufaktur Indonesia.