Print
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tengah mengkaji peluang investasi di industri tekstil melalui dua opsi, yakni mengakuisisi perusahaan yang telah beroperasi atau membangun pabrik baru. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat industri tekstil nasional sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan rencana investasi tersebut masih dalam tahap evaluasi. Ia menyampaikan hal itu seusai menghadiri Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin.

Menurut Dony, pengembangan industri dapat dilakukan melalui pengambilalihan perusahaan yang sudah ada maupun pembangunan fasilitas produksi dari awal. Kedua opsi tersebut akan dipertimbangkan untuk menentukan langkah investasi yang paling tepat.

Salah satu perusahaan yang masuk dalam evaluasi adalah PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex. Namun, Dony belum memberikan kepastian mengenai kemungkinan akuisisi perusahaan tekstil tersebut karena proses kajian masih berlangsung.

Ia menegaskan, penciptaan lapangan kerja menjadi salah satu prioritas utama Danantara dalam mengembangkan investasi di sektor industri padat karya. Selain tekstil, lembaga tersebut juga melihat peluang pada industri alas kaki dan elektronik yang dinilai memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja.

Danantara juga berencana memperkuat industri tekstil secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Pengembangan rantai produksi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kapasitas industri dalam negeri sekaligus memenuhi kebutuhan pasar domestik yang memiliki hampir 300 juta penduduk.

Dengan besarnya potensi pasar tersebut, penguatan industri tekstil dinilai dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan produksi nasional dan memperluas kesempatan kerja. Danantara pun menyatakan keseriusannya untuk masuk ke sektor tersebut melalui skema investasi yang masih dikaji.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji pada 24 Oktober 2026 menyampaikan bahwa Kementerian Perindustrian masih berkoordinasi dengan Danantara terkait rencana pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil. Salah satu opsi yang dibahas adalah mengambil alih perusahaan yang sudah tidak beroperasi.

Sarmuji juga menyoroti pentingnya modernisasi mesin dan penggunaan teknologi terbaru untuk meningkatkan produktivitas serta daya saing industri tekstil nasional. Pembaruan teknologi diharapkan mampu mendorong efisiensi produksi dan memperkuat kemampuan industri dalam menghadapi persaingan pasar.

Dari sisi ketenagakerjaan, Kementerian Perindustrian menargetkan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) menyerap 3,95 juta tenaga kerja pada 2026. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 4,07 juta orang pada 2029, atau bertambah sekitar 120 ribu tenaga kerja.

Kinerja industri terkait juga menunjukkan pertumbuhan positif. Pada triwulan II 2026, industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 6,36 persen secara tahunan. Sementara itu, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 11,30 persen.

Dari sisi perdagangan, nilai ekspor industri tekstil dan pakaian jadi Indonesia mencapai 7,18 miliar dolar AS atau sekitar Rp129,74 triliun selama Januari hingga Juli 2026.

Angka tersebut menunjukkan besarnya kontribusi sektor tekstil terhadap perekonomian nasional. Melalui rencana investasi dan penguatan industri dari hulu hingga hilir, Danantara diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas produksi, memperkuat daya saing produk dalam negeri, serta membuka lebih banyak peluang kerja bagi masyarakat.