Print

Lanskap industri fesyen dunia mengalami guncangan hebat pada penghujung tahun 2025. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Office of Textiles and Apparel (OTEXA), pasar impor pakaian Amerika Serikat tengah mengalami perombakan struktural yang signifikan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, sebuah tren diversifikasi yang mencolok mulai terlihat: raksasa manufaktur tradisional di Asia Selatan mulai kehilangan taringnya, sementara Vietnam justru melesat menjadi primadona baru bagi para peritel Negeri Paman Sam.

Kondisi paling kontras dialami oleh India, yang mencatatkan penurunan impor tekstil dan pakaian ke AS hingga mencapai angka drastis 31,4 persen secara tahunan (Y-o-Y) pada November 2025. Nilai perdagangannya merosot hingga menyentuh angka 0,54 miliar dolar AS. Keterpurukan ini bukan tanpa alasan; kebijakan tarif kumulatif sebesar 50 persen yang dijatuhkan pada barang-barang India telah menciptakan tembok tinggi yang sulit ditembus. Akibatnya, produk kebutuhan pokok seperti rajutan katun asal India kini dibanderol 35 persen lebih mahal dibandingkan produk pesaingnya di rak-rak toko Amerika.

Nasib serupa juga membayangi Bangladesh yang mencatatkan penurunan sebesar 14,5 persen pada periode yang sama. Volatilitas di hub manufaktur Asia Selatan ini mengindikasikan bahwa para pembeli global kini mulai meninggalkan loyalitas lama mereka demi memprioritaskan prediksi biaya yang lebih stabil dan akses perdagangan yang lebih aman. Di sisi lain, Vietnam muncul sebagai pemenang utama dari strategi diversifikasi ini. Pengiriman pakaian dari Vietnam ke AS justru melonjak 12,2 persen, mempertegas posisinya sebagai alternatif utama dalam strategi "China+1".

Keberhasilan Vietnam bukan sekadar faktor keberuntungan. Dengan proyeksi ekspor tekstil mencapai 46 miliar dolar AS di sepanjang tahun 2025, negara ini didukung oleh tingkat lokalisasi bahan baku sebesar 52 persen dan jaringan perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang sangat luas. "Pergeseran yang kita saksikan saat ini bukan sekadar fenomena musiman, melainkan migrasi strategis menuju vendor yang mampu menyerap guncangan geopolitik," ungkap seorang analis dari Confederation of Indian Textile Industry (CITI).

Seiring dengan langkah merek-merek global yang secara aktif melakukan de-risking pada rantai pasokan mereka, pertumbuhan dua digit yang konsisten dari Vietnam sepanjang 2025 menandai pergerakan tegas menuju pengadaan di Asia Tenggara untuk ritel volume tinggi. Menatap tahun 2026, fokus industri diperkirakan akan bergeser ke arah integrasi tekstil teknis dan fabrikasi berkelanjutan guna mengimbangi kenaikan biaya tenaga kerja. Bagi India dan Bangladesh, tantangan besar kini menanti untuk merebut kembali kepercayaan pasar yang kian pragmatis dan kompetitif.