Print

Industri tekstil dan pakaian jadi Eropa, yang selama berabad-abad menjadi tolok ukur keahlian kriya dan kekuatan industrial dunia, kini tengah berada di ambang titik nadir. Laporan terbaru dari EURATEX mengungkapkan realitas pahit bahwa sektor ini mengalami penurunan selama tiga tahun berturut-turut, sebuah tren yang diprediksi akan terus berlanjut hingga tahun 2026. Meskipun industri ini masih menyumbang omzet raksasa sebesar €166 miliar dan menghidupi sekitar 1,2 juta tenaga kerja, fondasi fundamentalnya kian rapuh akibat gempuran biaya energi yang mencekik, serbuan impor murah, dan beban regulasi yang kian berat.

Kelesuan ini menciptakan efek domino yang mengkhawatirkan, di mana sektor pakaian jadi mengalami pukulan paling telak dengan proyeksi penurunan produksi sebesar 4,5 persen pada tahun 2025. Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan sinyal nyata adanya relokasi besar-besaran manufaktur fesyen dari Eropa menuju Asia. Sementara merek-merek Eropa tetap mendominasi pasar global, proses produksinya semakin banyak dilempar ke luar negeri demi mengejar struktur biaya yang lebih rendah. Kondisi ini diperparah oleh munculnya platform pasar digital berskala besar yang membanjiri pasar domestik dengan produk impor murah, sehingga produsen lokal yang terikat standar lingkungan dan ketenagakerjaan yang ketat sulit untuk bersaing secara harga.

Direktur Jenderal EURATEX, Dirk Vantyghem, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa industri tekstil Eropa kini terjepit di antara ambisi keberlanjutan dan realitas ekonomi. "Kita tidak bisa membangun ekonomi sirkular jika industrinya sendiri hilang dari daratan Eropa," ungkapnya. Pernyataan ini merujuk pada paradoks kebijakan di Eropa; di satu sisi pemerintah mendorong standar keberlanjutan dan daur ulang yang tinggi, namun di sisi lain, beban administratif dan biaya energi yang tetap tinggi justru membuat perusahaan kecil dan menengah (UKM) kehilangan kelincahan mereka. Banyak perusahaan kini beroperasi di ambang batas kebangkrutan karena margin keuntungan mereka tergerus habis oleh biaya input yang tak terkendali.

Dampak dari "terurainya" benang-benang industri ini merembet jauh melampaui sektor ritel fesyen. Tekstil teknis yang menjadi komponen krusial dalam industri otomotif, konstruksi, hingga alat kesehatan kini ikut terancam. Jika kapasitas produksi domestik terus menyusut, Eropa akan menghadapi krisis otonomi dan ketergantungan yang mendalam pada rantai pasok luar negeri. Hal ini menjadi ironi di tengah upaya Uni Eropa yang sedang gencar mempromosikan ketahanan rantai pasok dan kemandirian industri.

Menghadapi situasi genting ini, para pemimpin industri mendesak Komisi Eropa untuk segera mengintervensi melalui kebijakan nyata sebelum akhir tahun 2026. Usulan seperti Industrial Accelerator Act dan reformasi pasar energi yang lebih dalam kini tengah digodok di Brussels. Namun, bagi banyak pelaku usaha, waktu terus berjalan lebih cepat daripada proses birokrasi. Tanpa adanya tindakan nyata untuk menyeimbangkan struktur biaya dan menciptakan arena permainan yang adil, label "Made in Europe" dikhawatirkan tidak lagi menjadi simbol kekuatan industri, melainkan hanya sekadar label warisan dari masa kejayaan yang telah usai.