Industri tekstil global menghadapi dinamika yang kian menantang seiring dengan laporan terbaru yang dirilis oleh The International Textile Manufacturer Federation (ITMF). Melalui publikasi International Textile Industry Statistics (ITIS) mengenai kapasitas produktif dan konsumsi bahan baku di sektor pemintalan jangka pendek terorganisasi di seluruh dunia, terungkap bahwa kapasitas global mengalami penurunan tipis sepanjang tahun 2024.
Berdasarkan hasil revisi berkelanjutan yang dilakukan ITMF untuk mencerminkan struktur industri terkini, estimasi jumlah spindel short-staple yang terpasang di seluruh dunia menyusut menjadi 219 juta unit, sementara jumlah rotor open-end yang terpasang berada di angka 9,6 juta unit, yang keduanya mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun 2023.
Kendati demikian, di tengah tren penyusutan kapasitas tradisional tersebut, adopsi teknologi modern justru menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan. Jumlah spindel air-jet yang terpasang dilaporkan terus mengalami peningkatan dengan dominasi pasar yang masih dipegang kuat oleh China. Dinamika di tingkat global ini mengindikasikan adanya pergeseran atau substitusi lambat menuju teknologi yang menawarkan peningkatan performa operasional yang lebih tinggi. Sementara itu, untuk sektor alat tenun, jumlah shuttle-less looms yang terpasang terpantau stabil pada tahun 2024 dengan angka mencapai 1,67 juta unit atau naik tipis 0,3 persen, di mana mayoritas besar yakni 83 persen dari seluruh alat tenun tersebut terpasang di kawasan Asia dan Oseania.
Dari sisi suplai dan pengolahan material, total konsumsi bahan baku di sektor pemintalan jangka pendek terorganisasi juga mencatatkan sedikit penurunan menjadi 42 juta ton secara keseluruhan. Tren penurunan ini terjadi meskipun konsumsi serat selulosa dan serat sintetis terpantau mengalami sedikit kenaikan.
Melalui data komprehensif ini, ITMF menegaskan bahwa industri tekstil dunia sedang berada dalam fase transisi struktural yang krusial, di mana pelaku industri di berbagai negara dipaksa untuk menyeimbangkan efisiensi kapasitas produksi dengan adopsi teknologi berperforma tinggi demi menghadapi persentase pasar global yang kian kompetitif.